Breaking News:

Aktivis Lingkungan Hidup: Pemda Abaikan Undang-undang, TPAS Cilowong 2 Tahun Lagi Penuh

Dampak utamanya adalah efek air lindi yang dihasilkan dari sistem control landfill TPAS Cilowong akan berdampak terhadap sumber air masyarakat sekitar

Tribunbanten.com/Ahmad Tajudin
Suasana di TPA Cilowong, Kecamatan Taktakan, Kota Serang, Banten, Kamis (11/3/2021). 

TRIBUNBANTEN.COM, KOTA SERANG - Aktivis lingkungan hidup Saung Hijau Indonesia (SAHID) mengkritisi kerja sama pengiriman sampah 400 ton sampah per hari dari Kota Tangerang ke Kota Serang. Kerja sama tersebut dinilai mengabaikan Undang-undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah dan diprediksi TPAS tersebut penuh dalam tiga tahun ke depan.

Demikian disampaikan Direktur Eksekutif Saung Hijau Indonesia (SAHID), Wilda Fajar Gusti Ayu, dalam keterangan tertulis yang diterima TribunBanten.com, Kamis (29/4/2021).

Wilda mengatakan, perjanjian kerja sama pengiriman sampah  400 ton per hari ke TPAS Cilowong antara Pemkot Tangsel dan Pemkot Serang masih menjadi polemik di masyrakat, termasuk penggiat lingkungan hidup.

Namun, Wali Kota Serang Syafrudin tetap menandatangani kerja sama tersebut dan direncanakan direalisasikan pada Juni 2021.

Dengan ditandatanginya perjanjian kerja sama tersebut, maka TPAS Cilowong akan menerima kiriman 400 ton per hari atau 1.200 ton per bulan dari wiayah Tangsel. Selain itu, Pemkot Serang akan menerima retribusi sebesar Rp 175 ribu per ton.

Baca juga: Mulai Juni, Tangsel Kirim 400 Ton Sampah Per Hari ke TPA Cilowong Serang

Berdasarkan data dari DLH Kota serang, saat ini TPAS Cilowong telah menampung timbunan sampah dari Kota Serang dan Kabupaten Serang dengan total 778 ton per hari.

Dengan adanya kerja sama pengiriman sampah sebanyak 400 ton per hari dari Tangsel, maka nantinya timbunan sampah di TPAS Cilowong mencapai sekitar 1.188 ton sampah per hari atau 35.640 ton per bulan.

Jumlah timbunan sampah yang masuk ke TPAS Cilowong hanya sebesar 45 persen dari total sampah yang dihasilkan wilayah Kota Serang, dengan jumlah timbunan sampah 1.730 ton per hari. 

Dua alat berat melakukan proses pencarian korban tertimbun longsoran di TPAS Cilowong, Kota Serang. Dua orang perempuan diduga tertimbun dan belum ditemukan hingga saat ini.
Dua alat berat melakukan proses pencarian korban tertimbun longsoran di TPAS Cilowong, Kota Serang. Dua orang perempuan diduga tertimbun dan belum ditemukan hingga saat ini. (KOMPAS.COM/ACEP NAZMUDIN)

Di sisi lain, kebijakan kerja sama ini dinilai belum tepat dilakukan mengingat Pemkot Serang belum baik dalam sistem pengelolaan sampah di TPAS Cilowong.

Pengolahan sampah di TPAS Cilowong selama ini belum sesuai UU Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah. Undang-undang tersebut mengarur pengelolaan sampah di TPAS harus menerapkan sistem pengelolaan zero wastle serta mengedepankan kesehatan masyarakat.

Halaman
123
Penulis: Abdul Qodir
Editor: Abdul Qodir
Sumber: Tribun Banten
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved