Hari Pendidikan Nasional

Sejarah Hari Pendidikan Nasional 2 Mei, Memperingati Jasa Pahlawan Nasional Ki Hajar Dewantara

Sejarah Hari Pendidikan Nasional 2 Mei, memperingati jasa-jasa Ki Hajar Dewantara.

Tayang:
Editor: Vega Dhini
Buku Tematik Terpadu Kurikulum 2013
Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Indonesia. 

TRIBUNBANTEN.COM - Sejarah Hari Pendidikan Nasional 2 Mei, memperingati jasa-jasa Ki Hajar Dewantara.

Sudah tahu sejarah Hari Pendidikan Nasional yang diperingati setiap tanggal 2 Mei?

Yuk simak sejarah Hari Pendidikan Nasional berikut ini.

Hari Pendidikan Nasional tahun ini (Hardiknas) diperingati pada Minggu 2 Mei 2021.

Ditetapkannya Hardiknas adalah sebagai peringatan terhadap jasa-jasa tokoh dan pahlawan Nasional Ki Hajar Dewantara.

Tanggal 2 Mei juga bertepatan dengan hari ulang tahun Ki Hajar Dewantara.

Adapun tema peringatan Hari Pendidikan Nasional 2021 adalah “Serentak Bergerak,
Wujudkan Merdeka Belajar”.

Sejarah Hari Pendidikan Nasional

Sejarah Hari Pendidikan Nasional memang tak bisa dilepaskan dari sosok dan perjuangan Ki Hadjar Dewantara, sang pelopor pendidikan bagi kaum pribumi Indonesia dari zaman penjajahan Belanda.

Dikutip dari National Geographic, Ki Hadjar Dewantara yang memiliki nama asli R.M. Suwardi Suryaningrat lahir dari keluarga ningrat di Yogyakarta, 2 Mei 1889.

Setelah menyelesaikan pendidikan dasar, ia mengenyam pendidikan di STOVIA, namun tidak dapat menyelesaikannya karena sakit.

Akhirnya, ia bekerja menjadi seorang wartawan di beberapa media surat kabar, seperti De Express, Utusan Hindia, dan Kaum Muda.

Baca juga: KUMPULAN Ucapan Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2021, Cocok Jadi Status WhatsApp dan Facebook

Baca juga: Simak! Ini Tips Beli Smartphone Terbaik untuk Digunakan Anak Sekolah Online, Berikut Penjelasannya

Ki Hajar Dewantara
Ki Hajar Dewantara (Grid.ID)

Selama era kolonialisme Belanda, ia dikenal karena berani menentang kebijakan pendidikan pemerintah Hindia Belanda pada masa itu.

Saat itu, pemerintah Hindia Belanda hanya memperbolehkan anak-anak kelahiran Belanda atau kaum priyayi yang bisa mengenyam bangku pendidikan.

Kritiknya terhadap kebijakan pemerintah kolonial menyebabkan ia diasingkan ke Belanda bersama dua rekannya, Ernest Douwes Dekker dan Tjipto Mangoenkoesoemo.

Sumber: Tribunnews
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved