Breaking News:

Pasien Covid-19 Meninggal di Pandeglang Naik, Cerita Nakes Harus Berhadapan dengan Keluarga Korban

Bukan hanya satu kali atau dua kali ia merasakan terancam nyawanya saat hendak beradu argumentasi dengan keluarga pasien Covid-19 yang meninggal.

Penulis: Marteen Ronaldo Pakpahan | Editor: Abdul Qodir
Tribun Palopo
Ilustrasi pasien Covid-19 dibawa petugas medis. MN (22), tahanan Polresta Jayapura, yang menjadi pasien Covid-19, kabur saat menjalani perawatan di ruang isolasi Rumah Sakit Marthen Indey, Jayapura. 

Laporan wartawan Tribunbanten.com, Marteen Ronaldo Pakpahan

TRIBUNBANTEN.COM, PANDEGLANG - Angka kematian pasien Covid-19 di Kabupaten Pandeglang mencapai 46 kasus. Sebanyak tiga pasien Covid-19 meninggal dalam setiap harinya.

Ketua Satgas Covid-19 RSUD Berkah Pandeglang, Eko Prasetyo saat ditemui mengatakan terjadi peningkatan jumlah kasus Covid-19 dan angka kematin pasca-mudik dan libur Lebaran 2021.

"Sekarang sudah ada tiga orang yang meninggal lantaran positif Covid-19," ujarnya saat ditemui, Selasa (8/6/2021).

Sementara itu, Ira Sofiah salah satu nakes di RSUD Berkah Pandeglang menceritakan kisahnya saat menangani pasien Covid-19 selama pandemi Covid-19, terutama pasien Covid-19 yang meninggal saat perawatan.

Ia menceritakan, ada satu momen saat dirinya sempat bersitegang dengan keluarga pasien yang meninggal terkait porses pemakaman sesuai protokol kesehatan Covid-19.

Baca juga: Ruang Isolasi Pasien Covid-19 di RSUD Berkah Capai 80 Persen, Didominasi Klaster Keluarga dan Wisata

Baca juga: Jenazah PDP Diambil Paksa Sambil Bawa Sajam, 100 Orang Langsung jadi ODP

"Ada beberapa yang menolak pemulasaran secara covid. Bahkan pada sat itu jenazahnya diambil paksa, karena ya kemungkinan tidak percaya kalau keluargnya covid. Bahkan saya sempat diintimidasi secara langsung," katanya saat ditemui.

Petugas pemakaman membawa peti jenazah pasien suspect Covid-19 di Tempat Pemakaman ( TPU) Pondok Rangon, Jakarta Timur, Rabu (22/4/2020).
Petugas pemakaman membawa peti jenazah pasien suspect Covid-19 di Tempat Pemakaman ( TPU) Pondok Rangon, Jakarta Timur, Rabu (22/4/2020). (Kompas.com/Garry Lotulung)

Bukan hanya satu kali atau dua kali ia merasakan terancam nyawanya saat hendak beradu argumentasi dengan keluarga pasien Covid-19 yang meninggal.

Kendati begitu, dirinya tetap melakukan tugas sekalipun ancaman melalui whatshap ataupun telepon genggam dengan nomor tak dikenal sering menghantui perasaannya setiap kali mengurusi prosedural pemakaman pasien yang terkonfirmasi positif.

Baca juga: Waspada! Puncak Kenaikan Kasus Positif Covid-19 di Indonesia Diprediksi hingga Awal Juli 2021

Baca juga: Mandikan Jenazah Pasien Covid yang Bukan Muhrim, 4 Petugas Medis Jadi Tersangka Penistaan Agama

Dirinya pun bersama denga pihak rumah sakit terus melakukan komunikasi kepada pihak keluarga yang bersikeras keluarganya yang meninggal untuk tidak dimakamkan dengan pemulasaran.

"Kita tidak berani memaksa dan tidak berani bentrok atau berbenturan dengan masyarakat. Karena pada awal awal Covid kita berulang kali menghadapi keluarga yang emosi dan marah-marah," tegasnya.

Ira juga mengatakan di sisi lain terdapat juga masyarakat yang mulai mengerti dengan keadaan dan menerima keluarganya dimakamkan dengan cara protokol kesehatan.

Pihak keluarga pun dapat melihat pemakaman secara khusus dengan radius beberapa meter untuk mencegah penularan Covid-19.

"Pemulasaran dari RSUD, tetap dengan rukun islam, bedanya terakhir dengan pembungkusan berlapis, peti mati, untuk pemakaman tetap dipemakaman umum tanpa ada pelayat (hanya pihak keluarga)," tutupnya.

Artikel lain terkait pasien Covid-19 meninggal dunia di TribunBanten.com

Sumber: Tribun Banten
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved