Wapres Maruf Amin: Pancasila Tak Bertentangan dengan Ajaran Agama Islam, Ini Alasannya
Wakil Presiden Maruf Amin mengenalkan pemikiran Darul Misaq. Darul Misaq sebagai jalan tengah atas pandangan Islam dan NKRI
TRIBUNBANTEN.COM - Wakil Presiden Maruf Amin mengenalkan pemikiran Darul Misaq.
Menurut dia, Darul Misaq sebagai jalan tengah atas pandangan Islam dan Negara Kesatuan Republik Indonesia untuk menjadi negara moderat dan penuh toleransi atas berbagai keragaman di Indonesia.
"Pemikiran Darul Misaq ini dapat menjadi gagasan yang baik demi Negara Kesatuan Republik Indonesia," kata dia, dalam keterangan yang diterima wartawan, Senin (7/6/2021).
Pernyataan itu disampaikan di acara bedah buku "Darul Misaq: Indonesia Negara Kesepakatan" yang merupakan hasil pemikiran mantan Ketua MUI itu.
Buku ini menjelaskan mengenai bagaimana Indonesia sebagai nation state dan mozaik luar biasa indah yang ditenun dari kemajemukan suku bangsa, adat istiadat, bahasa, agama, ras, dan antar golongan.
Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika adalah pengikat kemajemukan tersebut. Sebagai negara bangsa yang majemuk, Indonesia juga dianugerahi kondisi geografis yang unik-strategis dan begitu banyak kekayaan alam yang melimpah dari lautan dan daratannya, agar dapat dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.
Potensi kemajemukan dan kekayaan alam tersebut merupakan peluang dan sekaligus tantangan bagi ikatan kebangsaan Indonesia.
Ikatan kebangsaan Indonesia tidak muncul begitu saja, melainkan melalui proses panjang dan fluktuatif.
Baca juga: Jokowi Sudah Bertemu dengan KH Maruf Amin Bahas Reshuffle Kabinet, Siapa Terdepak?
Baca juga: Maruf Amin Akan Buka Forum Bisnis Himpunan Pengusaha Nahdliyin, Bantu Transformasi Digital UMKM
Trajektori semangat dan rasa kebangsaan Indonesia, pada masanya naik sampai pada titik yang paling tinggi, seperti terlihat pada momentum Kebangkitan Nasional (1908), Sumpah Pemuda (1928) dan Proklamasi Kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (1945).
Namun, pada masa yang lain turun sampai pada titik yang kritis dan mengkhawatirkan, misalnya pada konflik 1950-1960an dan 1998 – 2000an, bahkan mengancam disintegrasi bangsa.
Hal ini dapat dimengerti, karena semangat dan rasa kebangsaan tidaklah bersifat permanen, melainkan sangat bergantung pada kondisi dan situasi yang melingkupinya.
Pada era disrupsi saat ini, tantangan bagi ikatan kebangsaan Indonesia adalah teknologi, komunikasi dan infomasi digital, terutama media sosial yang semakin penuh resiko.
Persebaran berita atau informasi dari media sosial begitu masif, perputarannya per detik dan sulit dikendalikan.
Berita atau informasi hoax, provokasi, dan ujaran kebencian sangat mudah ditemui di media sosial.
Lemahnya edukasi bermedia sosial dan kekhawatiran lemahnya penghayatan tentang agama dapat memicu munculnya pemahaman sempit dan radikalisme.
Kenyataan ini, bila tidak ditangani secara serius, segera, dan komprehensif dapat menurunkan semangat, mengoyak dan merobek ikatan kebangsaan Indonesia.
Baca juga: Wakil Presiden Maruf Amin Divaksin, Berikut Syarat Lansia untuk Ikut Vaksinasi Covid-19
Baca juga: Kalah di Pilkada Tangsel, Azizah Belum Beri Tahu Wapres Maruf Amin, Saraswati Belum Telepon Prabowo
Acara bedah buku itu diselenggarakan sebagai rangkaian kegiatan Dies Natalis ke-57, Universitas Negeri Jakarta.
Kegiatan bedah buku ini dilaksanakan secara _hybrid_, yakni luring dan daring melalui zoom dan live streaming kanal youtube Edura TV.
Rektor UNJ, Prof. Komarudin mengatakan, buku itu merupakan oase dan sekaligus solusi dalam mengatasi problematika ikatan kebangsaan yang tengah menghadapi tantangan besar era disrupsi dan segala derivasinya.
Konsepsi Darul Misaq yang digagas oleh Prof. Dr. (HC). K.H. Ma’ruf Amin telah melalui proses Panjang pergulatan pemikiran, genealogis, dan empirik sang Empunya.
"Sejak pergulatannya di dunia pesantren, kampus, organisasi kemasyarakatan, organisasi politik, hingga pemerintahan," kata dia.
Konsepsi Darul Misaq secara detail, tidak hanya menjelaskan konteks sosial politik yang melatarbelakangi munculnya terminologi Darul Misaq, tetapi juga pembahasan mendasar tentang Darul Misaq dalam bingkai teologis, sosial, politik, pendidikan, dan kebangsaan.
“Dalam konteks bidang pendidikan, konsepsi Darul Misaq menjadi diskursus penting yang relevan dan solutif di tengah problematika pendidikan nasional yang minus dan hampa kesadaran kebangsaan. Selanjutnya, konsepsi Dārul Mịṡāq dapat menjadi jembatan bagi lahirnya kurikulum Pendidikan nasional yang berwawasan kebangsaan. Kurikulum Pendidikan kebangsaan yang bertujuan untuk melahirkan kecerdasan kewargaan digital yang pancasilais, moderat, dan berakhlaqul karimah.” ungkapnya.
Sedangkan menurut Prof. Dr Nadiroh, M.Pd, salah satu narasumber dalam kegiatan bedah buku dan juga Direktur Pascasarjana UNJ mengatakan bahwa makna Darul Misaq merupakan realitas keragaman yang menjadi kekayaan bangsa Indonesia. Internalisasi nilai Darul Misaq dapat dilalui dengan melalui adaptasi dan transformasi, ungkap Prof. Nadiroh.
Kegiatan ini dibuka oleh Wakil Presiden RI, Prof. Ma'ruf Amin dan Rektor UNJ, Prof. Komarudin. Kegiatan bedah buku ini menghadirkan sederet tokoh, dalam bedah buku kali ini seperti dua pembahas 1) Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Prof. Drs. K.H. Yudian Wahyudi, M.A., Ph.D 2) dari dosen Filsafat Ketuhanan STF Driyarka, Dr. Simon Petrus Lili Tjahjadi. Untuk pengatar diskusi diisi oleh 1) Staf Khusus Wakil Presiden, Prof. Dr. Masykuri Abdillah 2) Pakar Pendidikan, Prof. Dr. Azyumardi Azra 3) Direktur Pascasarjana UNJ, Prof. Dr. Nadiroh, M.Pd, untuk penyaji diisi oleh Dr. Rahmat Edi Irawan selaku ketua tim Penulis dan di moderatori oleh Drs. M. Fakhruddin, M.Si selaku dosen FIS UNJ.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banten/foto/bank/originals/foto-maruf-amin.jpg)