Virus Corona

Setahun Lebih Hadapi Pandemi Covid-19, 325 Perawat di Indonesia Meninggal Dunia

Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) mencatat ada 325 perawat meninggal dunia akibat Covid-19.

Editor: Glery Lazuardi
Warta Kota/Henry Lopulalan
Pasien terkonfirmasi Covid-19 bersiap menjalani perawatan di Rumah Sakit Darurat Covid-19 Wisma Atlet, Kemayoran, dengan menggunakan bus sekolah dan ambulans dari Puskesmas Menteng, Jalan Pegangsaan Barat, Menteng, Jakarta Pusat, Minggu (30/6/2021). Sebanyak 40 orang pasien terkonfirmasi Covid-19 dari Kecamatan Menteng menjalani perawatan di Wisma Atlet. 

TRIBUNBANTEN.COM - Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) mencatat ada 325 perawat meninggal dunia akibat Covid-19.

"Tepatnya, 325. Jadi setelah di Wisma Atlet, ada tiga lagi, satu Jogja, satu Jakarta, satu Karawang. Itu data yang masuk ke kami," ucap Ketua Umum PPNI, Harif Fadhillah, dikutip dari Diskusi Virtual MNC Trijaya FM, Sabtu (26/5/2021).

Pihaknya belum dapat memastikan kronologi kematian ratusan perawat tersebut.

"Mereka meninggal dunia dan dinyatakan Covid-19. Itu kan kita harus analisis kronologinya. Kita belum sampai sana," kata dia.

Menurutnya, lonjakan kasus Covid-19 di pekan ini bisa disebut sebagai situasi krisis.

Sebab, beberapa rumah sakit (RS) khususnya Jakarta sudah cukup penuh.

"Kita lihat beberapa rumah sakit khususnya di Jabodetabek sudah cukup penuh. Bahkan ruang IGD menjadi ruang rawat," lanjut Harif.

Baca juga: Kronologi 2 Penumpang Positif Covid-19 Terbang dari Surabaya-Pontianak Gunakan Surat Swab PCR Palsu

Baca juga: Tidak Semua Pasien Positif Covid-19 Harus Dirawat di Rumah Sakit

Di satu sisi lonjakan kasus, kata Harif, tenaga kesehatan (nakes) belum juga mendapat tambahan personel.

Padahal, jumlah kebutuhan nakes ini berbanding lurus dengan semakin banyak pasien Covid-19.

Ia mengatakan, para nakes dalam menjalankan tugasnya, mengalami kelelahan secara fisik maupun mental.

Lelah mental yang dimaksud, yakni melihat antrean panjang pasien Covid-19 yang masuk ke RS.

"Pasti teman-teman kami cukup merasa kelelahan baik fisik maupun mental. Mental ini bukan tekanan luar, tapi melihat kondisi pasien yang antri rasanya ini bagaimana,"

"Petugas kesehatan ini empatinya ke sana. Kadang-kadang itu dibawa ke dalam pemikiran, kok bisa seperti ini. Ini yang kadang-kadang menjadi beban mental kita," kata Harif.

Baca juga: Angka Kematian Covid-19 Meningkat, Jenazah Dimakamkan Tanpa Peti Mati di TPU Jombang Tangsel

Baca juga: Lebih dari 1.000 Jenazah Covid-19 Dimakamkan di TPU Jombang Tangsel, Stok Peti Mati Habis

Lanjutnya, perawat punya kerentanan yang tinggi terhadap paparan virus Covid-19.

Sehingga, kata Harif, para perawat perlu mendapat perlindungan ganda agar tak semakin banyak nakes yang gugur.

Sumber: Tribunnews
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved