Breaking News:

Kasus Dugaan Pemerkosaan Anak di Luwu Timur hingga Brigjen Junior, SETARA: Ujian Visi Presisi Polri

Belakangan ini muncul hastag tanda pagar #PercumaLaporPolisi di akun media sosial Twitter.

Editor: Glery Lazuardi
Instagram @humasreslutim
Humas Polres Luwu Timur minta maaf dan memberikan klarifikasi soal berita '3 Anak Saya Diperkosa' 

TRIBUNBANTEN.COM - Belakangan ini muncul hastag tanda pagar #PercumaLaporPolisi di akun media sosial Twitter.

Munculnya hastag tanda pagar #PercumaLaporPolisi itu menyusul penutupan penyelidikan kasus 'tiga anak saya diperkosa' yang sempat viral di media sosial.

'tiga anak saya diperkosa' itu merupakan sindiran soal penghentian proses penyelidikan dugaan pemerkosaan terhadap tiga anak di bawah umur di Luwu Timur, Sulawesi Selatan.

Baca juga: Diduga Jadi Korban Penipuan Belasan Miliar Rupiah, Tamara Bleszynski Melapor ke Bareskrim Polri

Baca juga: Kapolri Perintahkan Jajarannnya Tindak Tegas Pelaku Pinjol: Meresahkan Masyarakat

Wakil Ketua Setara Institute Bonar Tigor Naipospos menilai munculnya hastag tanda pagar #PercumaLaporPolisi itu sebagai ujian visi Kapolri Jenderal Listyo Sigit 'Transformasi Menuju Polri yang Presisi'.

Menurut dia, 'Transformasi Menuju Polri yang Presisi' seharusnya menjadi corak kepemimpinan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo yang harus sepenuhnya dipedomani oleh jajaran kepolisian khususnya di tingkat Polres dan Polsek.

“Peristiwa yang terkait Brigjen TNI Junior Tumilaar, #PercumaLaporPolisi dan pedagang perempuan dipukul preman dan menjadi tersangka di Deli Serdang, pembiaran mafia tambang di Sulawesi Utara yang menewaskan warga telah menggenapi berbagai peristiwa sebelumnya,” ujar Wakil Ketua Setara Institute Bonar Tigor Naipospos dalam keterangannya, pada
Rabu (13/10/2021).

Dia menjelaskan, visi Presisi adalah gambaran dari tekad Polri untuk melakukan predictive policing yang responsible, transparan dan berkeadilan.

Dia menilai, visi ini salah satunya diturunkan dalam bentuk pengutamaan restorative justice dalam penanganan perkara pidana tertentu.

"Pada tiga peristiwa lainnya, Mabes Polri telah sigap mengambil langkah konstruktif dengan memberikan perhatian serius dan mengambil alih penanganannya,” jelas dia.

Baca juga: Buka Jadi ASN Polri, Eks Pegawai KPK Ini Jualan Nasi Goreng Rempah, Bermodal Resep dari YouTube

Baca juga: Fakta-fakta Brigjen Junior Tumilaar Dicopot dari Jabatan Usai Surati Kapolri, Diduga Melawan Hukum

Selain itu, dia menyoroti masalah lainnya berupa dugaan kasus kriminalisasi Ketua Koperasi Petani Sawit Makmur (Kopsa-M) dan 2 orang petani sawit di Polres Kampar, Riau.

Mereka sedang memperjuangkan hak-hak 997 petani atas tanah yang diduga dirampas oleh perusahaan swasta dan melepas jerat atas utang Rp 150 miliar.

Untuk menyelesaikan masalah itu, kata dia, pihak aparat kepolisian dapat mengutamakan restorative justice atau keadilan restoratif dalam menangani kasus-kasus kemasyarakatan.

"(,-red) kasus Ketua Koperasi dan 2 orang petani adalah ujian lanjutan bagi visi Presisi Polri,” tambahnya.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved