PLN Siap Jalankan Transisi Energi untuk Keberlangsungan Usahanya
Langkah itu demi menjaga keberlangsungan usaha di tengah pelaksanaan transisi energi.
PLN juga akan pensiunkan PLTU dengan total kapasitas 1,1 GW sehingga kapasitas pembangkit PLN pada 2030 menjadi 99,2 GW.
"Pada RUPTL Hijau ini tercantum inisiatif PLN untuk mencapai target NDC pemerintah di tahun 2030, seperti biomass co-firing dan Konversi PLTD ke EBT," kata Kamia.
Baca juga: 269 UMKM Mitra Binaan PLN Mampu Produksi Program dan Produk Unggulan, Didorong agar Go Digital
Untuk jangka panjang, PLN akan terus melakukan pembangunan EBT yang dikombinasikan dengan energy storage, dan juga interkoneksi.
Langkah ini tentunya dibarengi dengan rencana memensiunkan PLTU secara bertahap.
Tidak hanya itu, PLN juga tengah mempertimbangkan penggunaan teknologi Carbon Capture and Storage (CCS) mulai 2040 jika harga teknologi tersebut sudah lebih terjangkau.
Dengan adanya CCS, diharapkan PLTU yang masih memiliki nilai ekonomi masih dapat dimanfaatkan.
Sekretaris Direktorat Jenderal EBTKE Kementerian ESDM RI Sahid Junaidi mengatakan secara umum upaya pemerintah menuju karbon netral berdasarkan lima prinsip utama.
Yaitu peningkatan pemanfaatan EBT, pengurangan energi berbasis fosil, peningkatan pemanfaatan kendaraan listrik di sektor transportasi, peningkatan pemanfaatan peralatan listrik untuk sektor rumah tangga dan industri, serta pemanfaatan teknologi bersih seperti CCS.
Baca juga: Cara Bergabung Usaha Kecil dan Menengah untuk Memasarkan Produk di Fitur Marketplace PLN Mobile
Kementerian ESDM telah mengembangkan sebuah peta jalan, yang menjabarkan upaya-upaya yang diperlukan untuk mengembangkan EBT.
"Juga pengurangan bahan bakar fosil dan penerapan teknologi bersih untuk mencapai karbon netral pada 2060 atau lebih cepat melalui bantuan internasional," ucap Sahid.
Wakil Ketua Umum Masyarakat Ketenagalistrikan Indonesia (MKI) Chairani Rachmatullah mengingatkan hal mendasar yang perlu disiapkan adalah model bisnis yang tepat.
Hal itu untuk menjaga keberlanjutan PLN sebagai penyelenggara layanan kelistrikan Indonesia.
PLN perlu melakukan modernisasi sistem penyaluran dan distribusinya.
"Semakin banyak pembangkit Variable Renewable Energy (VRE) beroperasi, PLN perlu mengadopsi digitalisasi dan improvement untuk sistem transmisi dan distribusi," katanya.
Menurutnya, RUPTL Hijau yang baru saja disahkan oleh pemerintah baru berbicara mengenai neraca daya yang dipasok oleh pembangkit EBT nantinya.
Sementara masalah yang krusial adalah teknologi yang ekonomis.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banten/foto/bank/originals/pln-siap-menjalankan-transisi-energi.jpg)