News

Apa Itu Virus NeoCov? Ini Penjelasannya Menurut Pakar Epidemiologi Griffith University

Virus NeoCov bukanlah virus yang baru hadir, virus ini sudah terdeteksi sekitar tahun 2013-2014. Virus ini pertama kali ditemukan di Afrika Selatan.

Editor: Anisa Nurhaliza
Istimewa via Tribun Jogja
Ilustrasi Terpapar Virus 

TRIBUNBANTEN.COM - Virus NeoCov bukanlah virus yang baru hadir, virus ini sudah terdeteksi sekitar tahun 2013-2014.

Virus NeoCov sudah ada sejak delapan tahun lalu, virus ini pertama kali ditemukan di Afrika Selatan.

Melansir dari Tribunnews.com, NeoCov ditemukan oleh riset dunia saat munculnya sindrom pernapasan Timur Tengah (MERS) yang saat itu sedang genjar mengenai dataran Arab.

Baca juga: Virus NeoCov, Varian Baru Covid-19 dengan Tingkat Kematian Tinggi

Lalu apa itu virus NeoCov?

Pakar Epidemiologi Griffith University, Dicky Budiman mengatakan bahwa di dunia ini sangat banyak sekali virus yang hadir.

Menurutnya, ada sekitar 1,6 juta virus terdeteksi di dunia. Dan setengah dari jumlah tersebut memiliki potensi yang dapat menyebabkan penyakit pada manusia.

"Dan setengahnya atau sekitar 800 ribuan jenis virus itu, baru diketahui oleh manusia kurang dari 1 persen. Kurang dari 1 persen itu ada virus HIV, ebola, Sars, MERS dan termasuk SARS-CoV-2," ungkap Dicky pada Tribunnews, Selasa (1/2/2022).

Baca juga: Penularan Semakin Luas, Virus Omicron di Indonesia Capai 254 Kasus, Begini Penjelasan Pemerintah

"Ketika MERS itu ada, kelelawar diduga menjadi sumbernya. Dicari sumber kemana, sumbernya di cari ke Afrika Selatan. Terdeteksi namanya NeoCov itu. Virus itu ada di hewan dan tidak menginfeksi manusia," jelas Dicky menambahkan.

Pakar Epidemiologi Griffith University menyebut bahwa kelelawar merupakan salah satu hewan yang banyak membawa virus.

"Sekarang baru satu menyebabkan penyakit. Potensi banyak sekali, mayoritas virus itu di kelelawar itu tidak, atau belum lompat menginfeksi manusia. Sejak saat itu dilakukan riset, mengamati karakter dari virus ini yang ada di hewan mamalia ini," papar Dicky lagi.

Dicky menjelaskan bahwa virus Neocov tidak dapat membunuh orang.

MERS Cov kala itu membunuh hampir 866 orang dengan angka mortalitas hingga 34 persen.

Karenanya dari dunia medis butuh penelitian dan riset untuk upaya pencegahan.

Baca juga: Kasus Covid-19 Melonjak Naik di Tangsel, Puluhan Tenaga Pengajar dan Pelajar Sekolah Terpapar Virus

Penelitian yang dilakukan 2013 pada NeoCov ini karena dianggap serupa dengan MERS Cov. Tapi ternyata ada perbedaan reseptor, MERS Cov bisa menginfeksi karena bisa menempel pada manusia.

Dan NeoCov ini ditemukan di mamalia atau kelelawar, dan bisa menempel di reseptor ACE.

Sumber: Tribunnews
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved