Breaking News:

Minyak Goreng Langka, Hasil Temuan Ombudsman: 3 Fenomena Penyebab Kelangkaan

Minyak goreng langka di pasar. Pihak Ombudsman RI mengungkap tiga temuan soal dugaan kelangkaan

Editor: Glery Lazuardi
Tribunbanten.com/Ahmad Tajudin
Sejumlah minyak goreng dijual di toko milik Haji Sobirin di Pasar Induk Rau Kota Serang 

TRIBUNBANTEN.COM - Minyak goreng langka di pasar.

Pihak Ombudsman RI mengungkap tiga temuan soal dugaan kelangkaan dan lonjakan harga minyak goreng.

Temuan itu didapat dari data laporan situasi masyarakat dari 34 provinsi di Indonesia.

“Pertama adalah penimbunan. Nah, ini harapannya satgas pangan bereaksi cepat dan ketegasan juga diperlukan. Begitu satgas pangan tegas, upaya-upaya penimbunan bisa diminimalisir,” kata Anggota ORI Yeka Hendra Fatika, dalam konferensi pers virtual ORI, Selasa (8/2/2022).

Baca juga: Harga Cabai Rawit Merah dan Bawang Naik, Bagaimana Minyak?, Berikut Harga Pangan pada 7 Februari

Lalu, temuan kedua, pihaknya mendapati upaya pengalihan penjualan minyak goreng dari pasar modern ke pasar tradisional.

“Jadi memang dibuat langka karena ada oknum di pasar modern menawarkan pada pelaku di pasar tradisional untuk membeli minyak goreng,” jelasnya.

Sehingga, diduga ini membuat situasi ini yang membuat kelangkaan minyak goreng di pasar modern.

Dalam pandangannya, motivasi pengalihan penjualan itu dilakukan agar minyak goreng bisa dijual dengan harga lebih mahal.

“Karena harus dijual Rp 14.000 di pasar modern, mendingan dijual ke pasar tradisional akhirnya. Ditawarin ke toko-toko dengan harga Rp 15.000 sampai Rp 16.000,” papar dia.

Baca juga: Harga Minyak Goreng di Toko Agen Sembako di Kecamatan Petir dan Pamarayan: Rp 17-18 Ribu Per Liter

Temuan terakhir dari ORI terkait kelangkaan minyak goreng adalah terjadi panic buying di masyarakat.

Situasi ini disebabkan ketidakjelasan informasi terkait ada tidaknya stok minyak goreng.

“Karena yang dibeli oleh warung-warung hari ini tidak untuk memenuhi kebutuhan saat ini. Tapi untuk kebutuhan dua minggu hingga satu bulan ke depan,” kata Yeka.

Yeka menyampaikan, ketika pemerintah melalui Kementerian Perdagangan (Kemendag) mengambil kebijakan pemerataan harga minyak goreng, akhirnya terjadi penimbunan yang mengakibatkan kelangkaan persediaan di pasaran.

Faktor ini lantas menyebabkan masyarakat sebagai konsumen panik karena takut tidak mendapatkan bagian.

“Begitu ada intervensi (pemerintah) membuat shock market dan menimbulkan penimbunan,” tuturnya.

Baca juga: Penjual Minyak Goreng di Pamarayan & Petir Untung Rp 1.000/Liter: Kalau Jual Rp 14.000, Rugi Donk

Terakhir, Yeka mendorong pemerintah untuk menyiapkan mekanisme antisipasi kelangkaan dan lonjakan harga minyak goreng tersebut.

Pasalnya, situasi ini telah sering dialami pemerintah terkait bahan pokok masyarakat yang lain.

“Mestinya pengalaman ini karena selalu terjadi bisa diantisipasi. Kita berharap tiga hal (temuan) ini kemudian hari bisa dihilangkan,” pungkasnya.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Temuan Ombudsman soal Minyak Goreng: Ditimbun, Dibuat Langka, dan Panic Buying"

Sumber: Kompas.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved