Perajin Mogok Produksi selama 3 Hari, Indonesia Terancam 'Kiamat' Tahu dan Tempe

Perajin tahu-tempe akan melakukan aksi mogok produksi. Aksi mogok dilakukan hanya di wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya.

Editor: Glery Lazuardi
Dokumentasi Tribun Jateng
ilustrasi. Pengusaha merapikan tempe produksinya. 

TRIBUNBANTEN.COM - Perajin tahu-tempe akan melakukan aksi mogok produksi.

Aksi mogok dilakukan hanya di wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya.

Baca juga: Pedagang Tahu dan Tempe di Pasar Ciputat Kota Tangsel Keluhkan Harga Kedelai Naik Terus

Ketua Umum Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu (Gakoptindo) Aip Syarifuddin, mengatakan
mogok produksi dilakukan mulai 21-23 Februari 2022.

"Minggu depan," kata Aip.

Ia memastikan aksi mogok produksi ini akan berimbas pada kelangkaan tahu dan tempe di pasaran.
"Yang sudah pasti itu Jakarta dan Bodetabek. Sementara daerah lain masih melakukan konsolidasi," imbuh dia.

Aip menambahkan, pihaknya terpaksa menaikkan harga jual tahu-tempe seiring melonjaknya harga kedelai.

Ia menilai, harga kedelai terus mengalami kenaikan sejak tahun lalu.

Harga komoditas pangan ini pun sangat tergantung dengan harga dunia.

"Kenapa tergantung dunia karena kebutuhan kedelai kita sebanyak 3 juta ton, itu hanya sekitar 10 persen produk dalam negeri, 90 persen impor. Jadi harga kedelai dalam negeri dipengaruhi betul oleh harga kedelai impor," papar Aip.

Baca juga: Formappi Soroti Kinerja DPR RI di Bawah Puan Maharani: Tukang Stempel Kebijakan Jokowi

Aip menjelaskan, saat ini harga kedelai sudah Rp 11.000 per kilogram, di mana harga itu dapat lebih tinggi jika sudah berada di daerah-daerah.

"Harga kedelai Rp 11 ribu itu untuk di Jakarta saja. Kami itu produsen tempe tahu, tidak seperti usaha lain, untungnya hanya untuk makan saja, kulturnya memang begitu," jelas dia.

Sebab itu, kata Aip, harga tempe di tingkat masyarakat nantinya bisa Rp 6.000 per potong atau ukuran 300 gram, dari saat ini Rp 5.000.

"Naiknya tidak seberapa, hanya Rp 1.000, kami tukang tempe sama tahu ini hanya sekadar bisa bertahan hidup saja, agar bisa makan," tutur Aip.

Direktur Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan (Kemendag), Oke Nurwan, menjelaskan faktor kenaikan harga kedelai dunia.

Ia menilai kondisi kedelai saat ini terjadi karena gangguan suplai.

Sumber: Kontan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved