Breaking News:

Hewan Terjangkit PMK Sah untuk Kurban, Ini Syarat dan Ketentuan dari MUI

Sebagian hewan dengan Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) dibolehkan untuk dikurbankan di Hari Raya Idul Adha.

Penulis: desi purnamasari | Editor: Glery Lazuardi
KOMPAS.com/NURWAHIDAH
Ilustrasi sapi 

Laporan Wartawan TribunBanten.com, Desi Purnamasari

TRIBUNBANTEN.COM, SERANG - Sebagian hewan dengan Penyakit Mulut dan Kuku ( PMK) dibolehkan
untuk dikurbankan di Hari Raya Idul Adha.

Pernyataan itu tertuang dalam Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Nomor 32 Tahun 2022 tentang Hukum dan Panduan Pelaksanaan Ibadah Kurban Saat Kondisi Wabah PMK.

Baca juga: Kabar Baik untuk Peternak di Seluruh Peloksok Negeri, Vaksin Perdana PMK Telah Tiba di Indonesia

Ketua MUI Kabupaten Serang, KH Tb Khudori Yusuf mengatakan berkurban hewan terserang PMK dinyatakan sah apabila gejala penyakit pada hewan tersebut masih dalam taraf gejala ringan.

"Hukum kurban dengan hewan yang terkena PMK itu dirinci sebagai hewan dengan gejala klinis ringan dia memenuhi syarat," katanya ditemui di kantor MUI Kabupaten Serang, Selasa (14/6/2022).

Menurutnya hal ini sangat penting untuk dijadikan panduan dan juga pedoman bagi masyarakat, termasuk juga pekurban dan tenaga kesehatan.

"Tidak semua jenis hewan yang terkena PMK itu tidak serta-merta tidak memenuhi syarat," katanya.

Hewan ternak terjangkit PMK dengan gejala ringan yaitu lesu, tidak nafsu makan, demam tetapi tidak menjadi menjadi faktor utama, lepuh pada sekitar kuku dan dalam mulut.

Namun tidak sampai menyebabkan pincang dan tidak sampai menyebabkan kurangnya berat badan secara signifikan.

"Kondisi lepuh tersebut juga dapat disembuhkan dengan pengobatan luka agar tidak terjadi infeksi sekunder," katanya.

Sedangkan hewan terjangkit PMK yang tidak sah untuk berkurban yaitu yang memiliki gejala berat yang ditandai dengan lepuh pada kuku dan membuat kuku terlepas, menyebabkan tidak bisa jalan, atau berjalan dengan pincang.

Sementara, apabila ada hewan kurban bergejala berat yang kemudian kembali dinyatakan sehat pada masa diperbolehkannya berkurban, yaitu tanggal 10 hingga 13 Dzulhijjah sebelum azan Maghrib, maka hewan tersebut sah untuk dikurbankan.

Baca juga: 84 Ekor Hewan Ternak di Kabupaten Serang Dinyatakan Positif PMK, Ini Peta Sebarannya

"Hewan dengan PMK gejala berat, tetapi sudah sembuh dalam rentang waktu kurban dari 10-13 Dzulhijjah sah dijadikan hewan kurban," katanya.

Sedangkan, jelasnya untuk hewan dengan PMK gejala berat, tetapi sembuhnya telah lewat dari rentang waktu kurban (10-13 Dzulhijjah) dianggap sebagai sedekah, bukan hewan kurban.

"Tidak semua jenis sakit itu tidak boleh, dan tidak semua jenis cacat juga tidak boleh," katanya.

Khudori menyebutkan, bahwa kondisi sakit yang ringan dan kondisi cacat yang ringan itu bisa memenuhi keabsahan dengan syarat tidak mempengaruhi tampilan fisik atau kualitas daging hewan kurban tersebut.

Sumber: Tribun Banten
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved