Kasus Pembunuhan Brigadir J

Tiga Kapolda Diduga Terlibat Kasus Ferdy Sambo, Mabes Polri Akui Telah Menerima Informasinya

Timsus Polri mendapat informasi mengenai keterlibatan tiga kapolda dalam kasus pembunuhan Brigadir J atau Nofriansyah Yosua Hutabarat.

Tayang:
Editor: Ahmad Haris
Kolase TribunBanten.com/Tribunnews
(Kiri) Tersangka Fredy Sambo memakai baju tahanan warna oranye. (Kanan) Ferdy Sambo menangis di pelukan Kapolda Metro Jaya Fadil Imran. Baru-baru ini, dikabarkan Timsus Polri mendapat informasi mengenai keterlibatan tiga kapolda dalam kasus pembunuhan Brigadir J atau Nofriansyah Yosua Hutabarat. 

Fadil menyebut kedatangannya menemui Ferdy Sambo sebagai bentuk dukungan moral, agar bisa tegar menghadapi kasus yang sedang dialaminya.

"Saya memberikan support kepada adik saya Sambo, agar tegar menghadapi cobaan ini," kata Fadil kepada wartawan, Kamis (14/7/2022).

Mantan Kapolda Jawa Timur itu menerangkan, sebagai manusia, permasalahan apa pun bisa terjadi pada siapapun.

"Ini tidak mudah dan dapat menimpa siapapun," ucapnya.

Dari video tersebut, Ferdy Sambo menghampiri Fadil Imran yang sudah menunggu di ruang kerjanya.

Hal ini terlihat karena terpampang sebuah foto Ferdy Sambo berdampingan dengan foto Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo.

Pertemuan yang hangat itu diawali dengan jabatan tangan antara keduanya. Setelah itu, Fadil langsung memeluk Ferdy Sambo.

Ferdy Sambo lalu menangis di pundak jenderal bintang dua itu. Pelukan hangat itu terlihat cukup lama.

Irjen Fadli Imran Diminta Mundur

Kapolda Metro Jaya Irjen Fadli Imran diminta mundur dari jabatannya, karena dinilai telah memalukan institusi Polri.

Hal itu lantaran usai melakukan drama memeluk dan mencium Ferdy Sambo, yang saat ini jadi tersangka kasus pembunuhan Brigadir J.

Desakan mundurnya Irjen Fadli Imran disampaikan oleh Deolipa Yumara, bekas kuasa hukum Bharada Richard Eliezer Pudihang Lumiu.

"Supaya Kapolda Metro, yaitu Fadil Imran, mundur dari jabatannya karena persoalan yang memalukan ini," tutur Deolipa di kediamannya, Depok, Jawa Barat, Sabtu (20/8/2022).

Baca juga: Kapolri Benarkan Bharada E Lihat Brigadir J Bersimbah Darah di Depan Sambo Sebelum Ikut Menembak

Baca juga: Tawa Kuat Maruf Kala Rekonstruksi, Mendadak Pasang Ekspresi Tertekan saat Sadar Kamera

Deolipa Yumara menilai, hal itu demi kepentingan anak-anak.

"Alasan saya cuma satu, anak-anak tidak boleh melihat hal seperti itu, apalagi anak-anak bisa membaca persoalan yang ada di TikTok."

"Anak-anak usia di bawah 15 tahun bisa melihat keadaan ini sebagai keadaan yang memalukan."

"Kalau sampai Pak Kapolda menjabat, kasihan anak-anak. Saya tidak peduli orang dewasa, tapi saya menjaga kepentingan anak-anak," tuturnya.

Sumber: Tribunnews
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved