Arti Kata
Arti Kata Rebo Wekasan, Tradisi Berdoa dan Memohon Agar Terhindar dari Mara Bahaya
Penjelasan mengenai arti kata Rebo Wekasan, dipercaya sebagai tradisi tolak bala. Bagaimana tradisi Rebo Wekasan menurut hukum Islam?
Penulis: Vega Dhini | Editor: Vega Dhini
TRIBUNBANTEN.COM - Apa arti kata Rebo Wekasan?
Belakangan arti kata Rebo Wekasan banyak dicari orang hingga trending di Google.
Apa sebenarnya arti kata Rebo Wekasan yang populer di jagat maya ini?
Dirangkum dari berbagai sumber, Rebo Wekasan merupakan ungkapan yang berasal dari Bahasa Jawa.
Rebo Wekasan merupakan tradisi yang dilakukan sebagian umat muslim yang utamanya berada di beberapa wilayah Pulau Jawa untuk memohon ampunan dan perlindungan kepada Allah SWT.
Tradisi dipercaya dilakukan agar terhindar dari mara bahaya atau bencana di hari Rebo Wekasan.
Baca juga: Arti Kata Resesi, Kabar Amerika Serikat Mengalami Resesi Kini Jadi Sorotan
Baca juga: Arti Kata Shes 10 But? yang Viral di Twitter Lengkap dengan Contoh Kalimatnya
Dalam Bahasa Jawa, Rebo berarti hari Rabu, sedangkan Wekasan berarti pungkasan atau terakhir kali.
Rebo Wekasan bisa diartikan sebagai hari Rabu terakhir di bulan Safar dalam penanggalan Hijriyah.
Di tahun ini, Rebo Wekasan atau Rabu terakhir di bulan Safar jatuh pada Rabu 21 September 2022.
Sementara itu dilansir dari Tribunnews.com, bagaimana tradisi Rebo Wekasan ini menurut hukum Islam?
Dikutip dari laman Pesantren Tambakberas Jombang, tradisi Rebo Wekasan bukan menjadi bagian dari Syariat Islam.
Namun, tradisi tersebut dianggap positif karena (1) menganjurkan shalat dan doa; (2) menganjurkan banyak bersedekah; (3) menghormati para wali yang mukasyafah (QS. Yunus : 62). Karena itu, hukum ibadahnya sangat bergantung pada tujuan dan teknis pelaksanaan. Jika niat dan pelaksanaannya sesuai dengan ketentuan syariat, maka hukumnya boleh. Tapi bila terjadi penyimpangan (baik dalam keyakinan maupun caranya), maka hukumya haram.
Bagi yang meyakini silahkan mengerjakan tapi harus sesuai aturan syariat dan tidak perlu mengajak siapapun. Bagi yang tidak meyakini tidak perlu mencela atau mencaci-maki.
Mengenai indikasi adanya kesialan pada akhir bulan Shafar, seperti peristiwa angin topan yang memusnahkan Kaum ‘Aad (QS. Al-Qamar: 18-20), maka itu hanya satu peristiwa saja dan tidak terjadi terus-menerus. Karena banyak peristiwa baik yang juga terjadi pada Rabu terakhir Bulan Shafar, seperti penemuan air Zamzam di Masjidil Haram, penemuan sumber air oleh Sunan Giri di Gresik, dll.
Kemudian, betapa banyak orang yang selamat (tidak tertimpa musibah) pada Hari Rabu terakhir bulan Shafar, meskipun mereka tidak shalat Rebo Wekasan. Sebaliknya, betapa banyak musibah yang justru terjadi pada hari Kamis, Jum’at, Sabtu, dll (selain Rabu Wekasan) dan juga pada bulan-bulan selain Bulan Shafar. Hal ini menunjukkan bahwa terjadinya musibah atau malapetaka adalah urusan Allah, yang tentu saja berkorelasi dengan sebab-sebab yang dibuat oleh manusia itu sendiri.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banten/foto/bank/originals/kumpulan-doa-akhir-tahun-2020-2.jpg)