Tangkal Radikalisme, Pemuda Indonesia Perbanyak Literasi dan Membaca

Untuk mencegah paham intoleransi, radikalisme dan terorisme, maka diperlukan penguatan literasi melalui karya sastra.

Editor: Glery Lazuardi
TribunBanten.com/Khairul Ma'arif
Ilustrasi membaca di perpustakaan. Untuk mencegah paham intoleransi, radikalisme dan terorisme, maka diperlukan penguatan literasi melalui karya sastra. 

TRIBUNBANTEN.COM - Untuk mencegah paham intoleransi, radikalisme dan terorisme, maka diperlukan penguatan literasi melalui karya sastra.

Penguatan literasi melalui karya sastra membuat masyarakat akan memahami kebudayaan Indonesia yang beraneka ragam.

"Kegemaran membaca generasi muda tetap terjaga dengan substansi yang berimbang antara sejarah, kebudayaan dan ilmu pengetahuan," ujar Syafrizal Ucok, Staf Ahli Gubernur Sumatera Barat Bidang Ekonomi dan Keuangan

Baca juga: Sambut Bulan Bahasa dan Sastra, Jurusan Sastra Arab UIN Banten Gelar Semarak Sastra Nasional

Untuk itu, dia optimistis, penguatan literasi dan minat baca dapat menuntun generasi bangsa menjadi lebih kritis sehingga dapat menangkal pengaruh negatif.

“Yang akan membuatnya pribadi yang punya sikap dan perilaku yang baik,” kata dia.

Pernyataan itu disampaikan dalam acara Balai Pustaka Pulang Kampung Penguatan Literasi di Sumatera Barat di Auditorium Gubernuran Sumatera Barat, Rabu (9/11/2022).

Direktur Utama Balai Pustaka, Achmad Fachrodji mengapresiasi para pegiat literasi yaitu para sastrawan dan penulis ternama yang banyak berasal dari Sumatera Barat.

Salah satunya adalah Aman Datuk Madjoindo yang tak lain adalah kakek dari Boy Rafli, Kepala BNPT.

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved