Berkaca 'Cebong dan Kampret', Polarisasi Masih Berpotensi Terjadi di Pilpres 2024

Ketua Relawan Pendekar Indonesia, Hendrawan Saragi, menilai calon pemilih di Indonesia masih terpolarisasi menjelang pemilihan umum (Pemilu) 2024.

Tayang:
Editor: Glery Lazuardi
Tribunnews.com
Ilustrasi pemilihan. Ketua Relawan Pendekar Indonesia, Hendrawan Saragi, menilai calon pemilih di Indonesia masih terpolarisasi menjelang pemilihan umum (Pemilu) 2024. Menurut dia, polarisasi masyarakat semakin meruncing saat Pilpres 2019 terutama di media sosial yang masih berlangsung hingga saat ini. 

TRIBUNBANTEN.COM - Ketua Relawan Pendekar Indonesia, Hendrawan Saragi, menilai calon pemilih di Indonesia masih terpolarisasi menjelang pemilihan umum (Pemilu) 2024.

Menurut dia, polarisasi masyarakat semakin meruncing saat Pilpres 2019 terutama di media sosial yang masih berlangsung hingga saat ini.

Baca juga: Tugas dan Wewenang PPS Pemilu 2024, Pelantikan Anggota Dijadwalkan pada 24 Januari 2023

"Dalam situasi politik saat ini, kita bisa melihat masih adanya polarisasi antara kelompok masyarakat pendukung di Pemilu 2019 dan Pilkada DKI Jakarta 2017," ujarnya dalam konferensi pers secara daring, Jumat (20/1/2023).

Kini, dia menilai kembali berpotensi terjadi polarisasi di masyarakat menjelang Pilpres 2024. Yaitu antara pendukung Ganjar Pranowo dan Anies Baswedan.

Jika Ganjar Pranowo dan Anies Baswedan masing-masing mencalonkan diri sebagai calon presiden, kata dia, untuk memenangkan pemilihan, kandidat perlu berada di tengah-tengah antara dua kelompok.

Dia menjelaskan mayoritas pemilih cenderung memiliki pandangan yang agak mirip dan mereka berada dalam apa yang disebut sebagai pusat spektrum. Posisi sentris ini merupakan tempat pengelompokan sebagian besar pemilih.

"Oleh karena itu, untuk memenangkan pemilihan, setiap kandidat diharapkan bergeser ke tengah spektrum politik," ujarnya.

Berkaca dari pemilihan sebelumnya, dia mengungkapkan, setiap kandidat tahu mengubah posisi. Tetapi dia tahu bahwa kandidat lainnya bertindak dengan cara yang sama.

Agar mendapat kemenangan, dia melanjutkan, maka yang dilakukan adalah menuduh lawan melakukan kesalahan dengan menunjukkan perubahan sambil terus mempertahankan sama sekali tak mengubah posisi.

"Pergeseran ini tentu saja akan menyulitkan karena akan mendapat stigma sebagai kandidat yang mau melakukan apa saja untuk mendapatkan kekuasaan politik serta membutuhkan waktu yang lebih lama," kata dia.

Baca juga: Waspada Lembaga Survei Abal-abal Jelang Pemilu 2024, Bawaslu: Ada Survei Pesanan

Untuk menghindari polarisasi di masyarakat, dia mengusulkan pasangan calon presiden dan calon wakil presiden yang berada di tengah spektrum politik, dekat dengan banyak pemilih di sebelah kiri maupun kanan dari spektrum. Yaitu, mantan Panglima TNI Andika Perkasa dan Menteri BUMN Erick Thohir (ET).

"Kombinasi ini mungkin tidak sempurna, tapi dapat menjadi pilihan yang pragmatis yang sesuai dengan realitas dan sifat masyarakat Indonesia," tambahnya.

 

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved