Sejarah Penetapan Hari Pendidikan Nasional Setiap 2 Mei, Tak Terlepas dari Ki Hajar Dewantara

Sejarah penetapan Hari Pendidikan Nasional yang selalu diperingati setiap tahunnya pada 2 Mei

|
Editor: Siti Nurul Hamidah
Buku Tematik Terpadu Kurikulum 2013
Sejarah penetapan Hari Pendidikan Nasional yang selalu diperingati setiap tahunnya pada 2 Mei 

TRIBUNBANTEN.COM - Inilah sejarah penetapan Hari Pendidikan Nasional yang selalu diperingati setiap tahunnya pada 2 Mei.

Hari Pendidikan Nasional atau Hardiknas adalah sebuah peringatan untuk mengenang tokoh Ki Hajar Dewantara.

Sebagaimana Ki Hajar Dewantara merupakan Bapak Pendidikan Indonesia.

Ditetapkannya peringatan Hardiknas setiap tahunnya pada 2 Mei juga merupakan tanggal yang diambil dari kelahiran Ki Hajar Dewantara.

Pasalnya, Bapak Pendidikan Indonesia itu lahir di Yogyakarta, 2 Mei 1889.

Baca juga: Kumpulan Ucapan Selamat Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2023, Cocok Dibagikan di Sosmed

Maka dengan itu, tanggal 2 Mei bertepatan dengan ulang tahun Ki Hajar Dewantara.

Sejarah Hari Pendidikan Nasional

Sejarah Hari Pendidikan Nasional memang tak bisa dilepaskan dari sosok dan perjuangan Ki Hadjar Dewantara, sang pelopor pendidikan bagi kaum pribumi Indonesia dari zaman penjajahan Belanda.

Dikutip dari National Geographic, Ki Hadjar Dewantara yang memiliki nama asli R.M. Suwardi Suryaningrat lahir dari keluarga ningrat di Yogyakarta, 2 Mei 1889.

Hari Pendidikan Nasional
Hari Pendidikan Nasional (TribunKaltim.co)

Setelah menyelesaikan pendidikan dasar, ia mengenyam pendidikan di STOVIA, namun tidak dapat menyelesaikannya karena sakit.

Akhirnya, ia bekerja menjadi seorang wartawan di beberapa media surat kabar, seperti De Express, Utusan Hindia, dan Kaum Muda.

Selama era kolonialisme Belanda, ia dikenal karena berani menentang kebijakan pendidikan pemerintah Hindia Belanda pada masa itu.

Saat itu, pemerintah Hindia Belanda hanya memperbolehkan anak-anak kelahiran Belanda atau kaum priyayi yang bisa mengenyam bangku pendidikan.

Kritiknya terhadap kebijakan pemerintah kolonial menyebabkan ia diasingkan ke Belanda bersama dua rekannya, Ernest Douwes Dekker dan Tjipto Mangoenkoesoemo.

Ketiga tokoh ini kemudian dikenal sebagai "Tiga Serangkai".

Sumber: Tribunnews
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved