Kunci Jawaban

KUNCI JAWABAN Bahasa Indonesia Kelas 12 Halaman 39, Kemelut di Majapahit

Kapankah latar waktu cerita dalam kutipan novel sejarah tersebut dibuat? Kunci jawaban Bahasa Indonesia Kelas 12 Kurikulum 2013 halaman 39.

Tayang:
Penulis: Vega Dhini | Editor: Vega Dhini
Buku Bahasa Indonesia Untuk SMA/MA/SMK/MAK Kelas XII
Kemelut di Majapahit. Kapankah latar waktu cerita dalam kutipan novel sejarah tersebut dibuat? 

TRIBUNBANTEN.COM - Dalam kunci jawaban berikut, siswa diajak untuk membahas soal dalam Bab 2 Menikmati Cerita Sejarah Indonesia.

Pertanyaan di atas merupakan materi Buku Bahasa Indonesia Untuk SMA/MA/SMK/MAK Kelas XII.

Simak materi kunci jawaban Bahasa Indonesia Kelas 12 SMA/MA/SMK/MAK Kurikulum 2013 halaman 39 dalam artikel ini.

Ilustrasi - Alat tulis untuk siswa belajar
Ilustrasi - Alat tulis untuk siswa belajar (Freepik.com)

Kunci jawaban ini ditujukan bagi orangtua untuk membimbing proses belajar siswa.

Diharapkan orangtua bisa membimbing kegiatan belajar siswa di rumah dengan semangat.

Baca juga: KUNCI JAWABAN Bahasa Indonesia Kelas 12 Kurikulum Merdeka Halaman 49, Menyimak Pembicaraan Eksposisi

Rangkuman kunci jawaban Bahasa Indonesia Kelas 12 SMA/MA/SMK/MAK Kurikulum 2013 halaman 39 hanya sebagai panduan, jawaban dari setiap soal tidak terpaku dari kunci jawaban ini.

Jawaban bisa berbeda dan tidak terpaku pada kunci jawaban yang disajikan dalam artikel ini.

Diharapkan siswa bisa mencari jawaban sendiri dari setiap soal yang disajikan.

Pada materi kunci jawaban Bahasa Indonesia Kelas 12 SMA/MA/SMK/MAK Kurikulum 2013 halaman 39 siswa diminta mengevaluasi gagasan dan pandangan dalam teks eksposisi.

Simak pembahasan kunci jawaban Bahasa Indonesia Kelas 12 SMA/MA/SMK/MAK Kurikulum 2013 halaman 39 selengkapnya berikut ini.

Baca juga: KUNCI JAWABAN Bahasa Indonesia Kelas 12 Kurikulum Merdeka, Pentingnya Menjaga Kelestarian Hutan

Kunci jawaban Bahasa Indonesia Kelas 12 SMA/MA/SMK/MAK Kurikulum 2013 halaman 39

Kemelut di Majapahit
(S.H. Mintardja)

Setelah Raden Wijaya berhasil menjadi Raja Majapahit pertama bergelar Kertarajasa Jayawardhana, beliau tidak melupakan jasa-jasa para senopati (perwira) yang setia dan banyak membantunya semenjak dahulu itu membagibagikan pangkat kepada mereka. Ronggo Lawe diangkat menjadi adipati di Tuban dan yang lain-lain pun diberi pangkat pula. Dan hubungan antara junjungan ini dengan para pembantunya, sejak perjuangan pertama sampai Raden Wijaya menjadi raja, amatlah erat dan baik.

Akan tetapi, guncangan pertama yang memengaruhi hubungan ini adalah ketika Sang Prabu telah menikah dengan empat putri mendiang Raja Kertanegara, telah menikah lagi dengan seorang putri dari Melayu. Sebelum puteri dari tanah Malayu ini menjadi istrinya yang kelima, Sang Prabu Kertarajasa Jayawardhana telah mengawini semua putri mendiang Raja Kertanegara. Hal ini dilakukannya karena beliau tidak menghendaki adanya dendam dan perebutan kekuasaan kelak.

Keempat orang puteri itu adalah Dyah Tribunan yang menjadi permaisuri, yang kedua adalah Dyah Nara Indraduhita, ketiga adalah Dyah Jaya Inderadewi, dan yang juga disebut Retno Sutawan atau Rajapatni yang berarti “terkasih“ karena memang putri bungsu dari mendiang Kertanegara ini menjadi istri yang paling dikasihinya. Dyah Gayatri yang bungsu ini memang cantik jelita seperti seorang dewi kahyangan, terkenal di seluruh negeri dan kecantikannya dipuja-puja oleh para sastrawan di masa itu. Akan tetapi, datanglah pasukan yang beberapa tahun lalu diutus oleh mendiang Sang Prabu Kertanegara ke negeri Malayu. Pasukan ini dinamakan pasukan Pamalayu yang dipimpin oleh seorang senopati perkasa bernama Kebo Anabrang atau juga Mahisa Anabrang, nama yang diberikan oleh Sang Prabu mengingat akan tugasnya menyeberang (anabrang) ke negeri Malayu. Pasukan ekspedisi yang berhasil baik ini membawa pulang pula dua orang putri bersaudara. Putri yang kedua, yaitu yang muda bernama Dara Petak, Sang Prabu Kertarajasa terpikat hatinya oleh kecantikan sang putri ini, maka diambillah Dyah Dara Petak menjadi istrinya yang kelima. Segera ternyata bahwa Dara Petak menjadi saingan yang paling kuat dari Dyah Gayatri, karena Dara Petak memang cantik jelita dan pandai membawa diri. Sang Prabu sangat mencintai istri termuda ini yang setelah diperisteri oleh Sang Baginda, lalu diberi nama Sri Indraswari.

Sumber: Tribun Banten
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved