Potensi Cuaca Ekstrem saat Libur Nataru, Dermaga di Pelabuhan Merak Dapat Ditutup Sementara Waktu
Dermaga di Pelabuhan Merak, Cilegon, dapat ditutup sementara waktu untuk mengantisipasi cuaca ekstrem saat libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2024.
TRIBUNBANTEN.COM - Dermaga di Pelabuhan Merak, Cilegon, dapat ditutup sementara waktu untuk mengantisipasi cuaca ekstrem saat libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2024.
BPTD Kelas II Banten memastikan keselamatan pengguna jasa pelayaran menjadi yang utama.
Ini merupakan hasil kesepakatan antara BPTD Kelas II Banten dengan BMKG.
"Apabila berpotensi sampai penutupan dermaga pelabuhan, maka kami akan mengeluarkan maklumat penutupan sementara dermaga dan nanti akan kita cabut saat cuaca kembali normal," kata Kepala BPTD Kelas II Banten Benny Nurdin Yusuf di Pelabuhan Merak, Kamis (21/12/2023).
Baca juga: Pantauan Arus Mudik H-5 Nataru di Pelabuhan Merak: Ribuan Penumpang Mulai Memadati
Dia menegaskan tidak akan bermain-main dengan cuaca ekstrem demi keselamatan pelayaran penyeberangan.
Apabila informasi dari BMKG keluar, maka BPTD akan menyampaikan ke petugas Local Port System (LPS) lalu diteruskan ke Syahbandar nanti akan disampaikan operator kapal dan operator pelabuhan.
Hal-hal lain terkait dengan pengaturan lalu lintas di baik di dalam dan di luar pelabuhan juga dilakukan.
Di dalam pelabuhan dilakukan koordinasi dengan operator dan di luar bersinergi dengan kepolisian.
BPTD Kelas II Banten bersama petugas yang ditempatkan di Posko dan sudah disiapkan Standard Operational Procedure (SOP) apabila ada peringatan dini serta peringatan cuaca ekstrem yang berpotensi pada penutupan dermaga, maka akan dilakukan penindakan bersama-sama.
Sementara itu, Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menyampaikan setiap tahunnya selalu berkoordinasi dengan BPTD untuk mengamankan kondisi penyeberangan dari bahaya cuaca ekstrem atau gelombang arus yang kuat.
Menurutnya, setiap stakeholder memiliki SOP dan perlu diharmonisasikan dalam kondisi darurat, karena bila tidak maka akan kisruh dan kacau atau bahkan muncul konflik.
"Pengendalinya dari BPTD dan BMKG adalah sumber informasi yang disusun secara tertulis, nah SOP bersama yang tertulis dan diharmonisasikan," ucap Dwikorita.
SOP yang sudah diharmonisasi, harus diuji coba atau simulasi untuk diketahui apakah ada kendala atau tidak untuk selanjutnya disempurnakan untuk diterapkan bersama.
Dwikorita mengapresiasi kesigapan petugas BPTD yang sangat peduli terhadap keselamatan dan gerak cepat mengantisipasi kondisi darurat di dermaga, seperti yang terjadi di Pelabuhan Merak malam tadi (20/12) di mana terjadi angin kencang sehingga kapal tidak bisa sandar.
Baca juga: 174 Ribu Kendaraan Diprediksi Gunakan Tol Tangerang-Merak saat Puncak Arus Mudik Nataru
"Petugas BPTD juga terjun mengatur lalu lintas karena dampaknya kalau sudah cuaca buruk, maka penyeberangan bisa sampai berhenti dan ini yang harus diantisipasi. Hal itu lantaran bila bongkar muat dan aktivitas penyeberangan berhenti berarti akan terjadi antrean, maka perlu mengharmonisasikan SOP," ujarnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banten/foto/bank/originals/Foto-Ilustrasi-Pelabuhan-Merak-11-Juli-2023.jpg)