17 Oktober Hari Apa? Ini Daftarnya

17 Oktober memperingati hari apa? 17 Oktober jatuh pada hari Kamis besok. Ada tiga perayaan selama 17 Oktober 2024.

Editor: Glery Lazuardi
Tribun Jogja
ilustrasi kalender 

Peringatan Hari Trauma Sedunia diharapkan bisa membuat masyarakat memiliki informasi yang cukup tentang cara mengatasi trauma. 

Hari Resolusi Konflik Internasional 

Adanya peringatan Hari Resolusi Konflik ini menyoroti konflik yang terjadi di antara hubungan dengan sesama manusia.  

Hari Resolusi Konflik diperingati pada hari Kamis ketiga bulan Oktober setiap tahun. Tahun 2024 ini jatuh pada tanggal 17 Oktober

Konflik dengan sesama manusia memiliki maksud bahwa seringkali kehidupan kita diwarnai dengan konflik baik itu dalam lingkungan keluarga, tempat kerja, tetangga dan lainnya.  

Inti dari peringatan ini yakni agar banyak orang memahami bahwa konflik adalah proses kehidupan yang tidak bisa dihindari. 

Namun yang paling penting adalah bagaimana cara kita menyikapinya.  

Penyelesaian konflik tidak harus dilakukan dengan cara kekerasan namun bisa diselesaikan melalui cara-cara damai. 

Baca juga: KPAI Sebut Anak Cut Intan Nabila Bisa Alami Trauma Akibat Saksikan KDRT Orangtua

Merujuk pada National Today, Asosiasi untuk Resolusi Konflik (A.C.R.) menetapkan Hari Resolusi Konflik pada tahun 2005. 

Dalam meresmikan hari penting tersebut, A.C.R. menyoroti peningkatan kesadaran akan mediasi, arbitrase, konsiliasi, dan metode penyelesaian konflik yang damai.   

Hari ini juga bertujuan untuk mengakui kontribusi signifikan dari para penyelesai konflik secara damai. 

Pada tanggal 17 Oktober tahun 1952 terjadi ketegangan dimana adanya konflik antara elit sipil di parlemen dengan kelompok militer. 

Saat itu Kepala Staf Pemerintahan bersama dengan panglima angkatan bersenjata meminta Dewan Perwakilan Rakyat Sementara (DPRS) dibubarkan  

Merujuk pada Ensiklopedia Kemendikbud, konflik ini dilatarbelakangi tuntutan perbaikan kondisi ekonomi negara yang memburuk sehingga direncanakan restrukturisasi dan rasionalisasi jumlah tentara dari 200 ribu menjadi 100 ribu orang sehingga membawa angkatan perang sejajar dengan partai-partai politik di pemerintahan. 

Kebijakan ini menuai perseteruan antara kelompok pimpinan pusat AD dan daerah yang memiliki kedekatan dengan Partai Nasional Indonesia dan Sukarno. 

Sumber: Kompas.com
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved