BMKG Prediksi Puncak Musim Kemarau di Indonesia Terjadi pada Juni, Juli, dan Agustus 2025

Periode puncak musim kemarau di Indonesia tahun ini diprediksi akan terjadi pada bulan Juni, Juli, dan Agustus 2025.

Tayang:
Warta Kota
ILUSTRASI Kemarau. Periode puncak musim kemarau di Indonesia tahun ini diprediksi akan terjadi pada bulan Juni, Juli, dan Agustus 2025. 

TRIBUNBANTEN.COM - Periode puncak musim kemarau di Indonesia tahun ini diprediksi akan terjadi pada bulan Juni, Juli, dan Agustus 2025.

Sementara itu, awal musim kemarau di sebagian besar wilayah diprediksi terjadi pada periode yang sama hingga mundur dibandingkan dengan kondisi normalnya.

Hal tersebut dikatakan oleh Plt. Kepala BMKG Dwikorita Karnawati dalam Konferensi Pers Prediksi Awasl Musim Kemarau di Kantor Pusat BMKG, Kemayoran, Jakarta pada Kamis (13/3/2025).

Baca juga: Cuaca Banten Hari Ini Jumat 14 Maret 2025, BMKG Rilis Wilayah yang Turun Hujan, Cek di Mana Saja

"Jika dibandingkan terhadap rerata klimatologinya (periode 1991-2020), maka awal musim kemarau 2025 di Indonesia diprediksi terjadi pada periode waktu yang SAMA dengan normalnya pada 207 ZOM (30 persen), MUNDUR pada 204 ZOM (29 persen), dan MAJU pada 104 ZOM (22 persen)," kata Dwikorita, dikutip dari siaran pers BMKG, Jumat (14/3/2025).

"Puncak musim kemarau 2025 di sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi terjadi pada Juni, pada Juli dan pada Agustus 2025," sambungnya.

Dwikorita menjelaskan wilayah yang mengalami awal musim kemaraunya diprediksi sama dengan normalnya, yaitu sebagai berikut.

  • Sumatra
  • Jawa Tengah
  • Kalimantan Timur
  • Sulawesi Selatan
  • Gorontalo
  • Sulawesi Utara
  • sebagian Maluku
  • sebagian Maluku Utara

Sedangkan, wilayah yang diprediksi akan mengalami awal musim kemarau yang mundur atau datang lebih lambat dibandingkan dengan normalnya, adalah:

  • Kalimantan bagian Selatan
  • Bali
  • Nusa Tenggara Barat
  • Nusa Tenggara Timur
  • Sulawesi
  • sebagian Maluku utara dan Merauke

Sementara itu, ia menambahkan jika dibandingkan terhadap rerata klimatologinya, secara umum musim kemarau 2025 diprediksi bersifat NORMAL sebanyak 416 Zona Musim/ZOM (60 persen), 185 ZOM (26 persen) diprediksi mengalami musim kemarau dengan sifat ATAS NORMAL, dan 98 ZOM (14 persen) diprediksi mengalami musim kemarau dengan sifat BAWAH NORMAL.

  • sebagian besar Sumatera
  • Jawa bagian Timur
  • Kalimantan
  • sebagian besar Sulawesi
  • Maluku
  • sebagian besar Pulau Papua

Sedangkan, wilayah yang diprediksi mengalami sifat musim kemarau di atas normal (185 ZOM/26 persen) meliputi:

  • sebagian kecil Aceh
  • sebagian besar Lampung
  • Jawa bagian barat dan Tengah
  • Bali
  • Nusa Tenggara Barat
  • Nusa Tengga Timur
  • sebagian kecil Sulawesi
  • Papua bagian Tengah

Wilayah dengan sifat musim kemarau di bawah normal (98 ZOM/14 persen) atau lebih kering dari klimatologisnya meliputi wilayah:

  • Sumatera bagian utara
  • sebagian kecil Kalimantan Barat
  • Sulawesi bagian tengah
  • Maluku Utara
  • Papua bagian selatan

Imbauan BMKG

Lebih lanjut, Dwikorita mengimbau sektor pertanian dapat menyesuaikan jadwal tanam di wilayah-wilayah yang diprediksi mengalami musim kemarau lebih awal maupun lebih lambat, memilih varietas tahan kekeringan, serta mengoptimalkan pengelolaan air di daerah dengan musim kemarau lebih kering dari normal.

Sementara itu, wilayah yang berpotensi mengalami musim kemarau lebih basah dapat memanfaatkannya dengan memperluas lahan sawah untuk meningkatkan produksi pertanian.

Untuk sektor kebencanaan dapat meningkatkan kesiapsiagaan terhadap kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama di wilayah rawan yang diprediksi mengalami musim kemarau dengan curah hujan normal atau bawah normal.

Kemudian, sektor lingkungan dapat mewaspadai memburuknya kualitas udara di kota-kota besar dan wilayah rawan karhutla, serta potensi gangguan kenyamanan akibat suhu udara panas dan lembap selama musim kemarau.

Sektor energi dapat menghemat dan mengelola pasokan air secara efisien untuk menjaga keberlanjutan operasi PLTA, irigasi, dan pemenuhan kebutuhan air baku, terutama di wilayah dengan musim kemarau Bawah Normal atau lebih panjang dari normal.

Sumber: Tribunnews
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved