78.000 Warga Banten Terjangkit Pneumonia, Kasus Tertinggi di Kota Tangerang

Dinas Kesehatan Provinsi Banten mencatat sebanyak 78 ribu warga terjangkit pneumonia sepanjang tahun 2025.  Kasus tertinggi ada di Kota Tangerang

Tayang:
Editor: Abdul Rosid
Kompas.com
Ilustrasi sakit batuk - Dinas Kesehatan Provinsi Banten mencatat sebanyak 78 ribu warga terjangkit pneumonia sepanjang tahun 2025.  Kasus tertinggi ada di Kota Tangerang 

TRIBUNBANTEN.COM - Dinas Kesehatan Provinsi Banten mencatat sebanyak 78 ribu warga terjangkit pneumonia sepanjang tahun 2025. 

Tingginya kasus infeksi paru-paru tersebut mendorong pemerintah daerah memperkuat deteksi dini penyakit pernapasan, termasuk Tuberkulosis (TBC) dan kanker paru-paru.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Banten, Ati Pramudji Hastuti, mengatakan kasus pneumonia ditemukan di seluruh kabupaten dan kota di Banten. Penyakit ini diketahui dapat dipicu oleh infeksi virus, bakteri, maupun jamur.

Menurut Ati, Kota Tangerang menjadi wilayah dengan jumlah temuan kasus tertinggi. 

Baca juga: Tekan Lonjakan Campak di Tangsel, Dinkes Gencarkan Vaksinasi dan Ajak Warga Lindungi Anak Sejak Dini

Namun, tingginya angka tersebut disebut karena petugas kesehatan di wilayah itu aktif melakukan pelacakan dan pemeriksaan terhadap masyarakat.

"Tingginya kasus di Tangerang bukan berarti buruk, tapi karena mereka aktif mencari kasus agar bisa cepat diobati dan menekan angka kematian," ujar Ati kepada wartawan di Serang, Jumat (8/5/2026).

Dinkes Banten mengimbau masyarakat untuk waspada apabila mengalami batuk berkepanjangan selama dua hingga empat minggu. Kondisi tersebut bisa menjadi gejala pneumonia maupun TBC.

Saat ini, Indonesia juga masih menjadi salah satu negara dengan jumlah kasus TBC tertinggi di dunia.

Sebagai langkah pencegahan, pemerintah telah menjalankan program vaksinasi pneumonia bagi bayi usia 2 hingga 4 bulan. 

Selain itu, puskesmas dan klinik juga diminta aktif melakukan pencarian kasus untuk mendukung deteksi dini penyakit paru.

Dokter Spesialis Paru dari Eka Hospital Cilegon, dr. Adhi Nugroho Latief, Sp.P, menambahkan, skrining paru sangat krusial bagi kelompok risiko tinggi. 

Kelompok tersebut seperti perokok berat, pekerja industri yang terpapar bahan kimia, serta warga di area berpolusi tinggi. 

"Orang-orang yang bekerja di industri yang biasanya mengalami pembakaran atau peleburan zat kimia, atau mungkin dari pekerjaan seperti di peternakan maupun pertanian," ujar dia.

Beberapa metode skrining modern yang disarankan meliputi Low-Dose CT Scan (LDCT) atau deteksi dini kanker paru dengan radiasi rendah. 

Kemudian Spirometri atau evaluasi kapasitas paru untuk deteksi asma dan PPOK serta rontgen dada & USG Thorax dengan pemeriksaan dasar untuk infeksi dan cairan paru. 

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved