Angka HIV/AIDS Capai 115 Kasus, Dinkes Ungkap Keberadaan Gay di Serang Banten
Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Serang mencatat, angka HIV/AIDS di Kabupaten Serang sepanjang Januari-Agustus 2025 mencapai 115 kasus.
Penulis: Muhammad Uqel Assathir | Editor: Abdul Rosid
Laporan Wartawan TribunBanten.com, Muhamad Uqel
TRIBUNBANTEN.COM, SERANG - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Serang mencatat, angka HIV/AIDS di Kabupaten Serang sepanjang Januari-Agustus 2025 mencapai 115 kasus.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kabupaten Serang, Istianah Hariyanti, mengatakan pihaknya bekerja sama dengan komunitas penjangkau untuk melakukan pemetaan keberadaan kelompok berisiko tinggi seperti waria, lelaki seks dengan lelaki (LSL), dan pekerja seks komersial (PSK) di wilayah Kabupaten Serang.
"Kemungkinan besar ada hotspot berarti ada komunitasnya. Jadi Dinkes bekerja sama dengan komunitas penjangkau, dan mereka yang menginformasikan ke kami," kata Istianah kepada TribunBanten.com, Senin (29/9/2025).
Baca juga: Ada 115 Kasus, HIV/AIDS di Kabupaten Serang Didominasi Lelaki Seks Lelaki
Menurut Istianah, keberadaan kelompok tersebut tersebar hampir di seluruh kecamatan di Kabupaten Serang.
Biasanya, kata dia, mereka dapat ditemui di berbagai tempat seperti salon, gym, kafe, hingga depan supermarket.
"Itu tersebar hampir di setiap kecamatan di Kabupaten Serang. Hotspot itu tempat mereka berkumpul, beraneka ragam, bisa di salon, kafe, gym, bahkan ada di depan supermarket," ungkapnya.
Istianah menyebutkan, berdasarkan data Dinas Kesehatan, kasus HIV/AIDS paling banyak ditemukan di Rumah Sakit dr. Drajat Prawiranegara yakni sebanyak 33 kasus.
Kemudian, lanjutnya, kecamatan dengan temuan kasus terbanyak adalah Kecamatan Kramatwatu dengan 13 kasus.
Ia menjelaskan, ada dua faktor tingginya temuan kasus tersebut, yakni karena pelayanan kesehatan yang baik serta adanya upaya menghindari stigma buruk masyarakat.
"Pertama karena layanannya bagus sehingga jadi pilihan bagi pengidap HIV untuk berobat. Kedua, karena stigma masih tinggi. Misalnya, orang Ciruas periksa di Kramatwatu, sebaliknya orang Kramatwatu periksa di Kragilan karena mereka takut atau malu kalau sampai ketahuan," jelasnya.
"Jadi, meskipun Kramatwatu paling banyak kasus, belum tentu itu penduduk asli Kramatwatu. Bisa jadi dari luar daerah yang hanya berobat di Kramatwatu," sambungnya.
Istianah menambahkan, pemeriksaan yang dilakukan tidak berdasarkan domisili, sehingga pasien pengidap HIV/AIDS bisa memilih fasilitas kesehatan sesuai keinginan.
"Data kami dihitung berdasarkan faskes yang melakukan pemeriksaan, bukan berdasarkan KTP. Karena orang bebas memilih berobat ke mana saja, apalagi HIV masih mendapat stigma dan diskriminasi yang tinggi," pungkasnya.
| Terpilih Jadi Ketua KONI Kabupaten Serang, Syamsul Rizal Target Tiga Besar Porprov Banten 2026 |
|
|---|
| Wabup Serang Soroti Kekerasan Seksual di Sekolah, Guru BK Diminta Aktif Lindungi Siswa |
|
|---|
| Cegah Kekerasan Seksual di Sekolah, PGRI Kabupaten Serang Gelar Pelatihan Konseling |
|
|---|
| Curanmor Bersenjata Api Gentayangan di Cikande Serang, Satu Motor Warga Berhasil Digasak |
|
|---|
| Tahun Ini, Dishub Kabupaten Serang Fokus Bangun Penerangan Jalan Umum di 36 Lokasi |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banten/foto/bank/originals/Ilustrasi-1-HIVAIDS.jpg)