Ada 115 Kasus, HIV/AIDS di Kabupaten Serang Didominasi Lelaki Seks Lelaki

Dinkes Kabupaten Serang mencatat 115 kasus HIV/AIDS sepanjang Januari-Agustus 2025. Kasus tertinggi didominasi Lelaki Seks Lelaki (LSL)

Tayang:
Penulis: Muhammad Uqel Assathir | Editor: Abdul Rosid
ilustrasi/RSU Andhika
Dinkes Kabupaten Serang mencatat 115 kasus HIV/AIDS sepanjang Januari-Agustus 2025. Kasus tertinggi didominasi Lelaki Seks Lelaki (LSL) 

Laporan Wartawan TribunBanten.com, Muhamad Uqel

TRIBUNBANTEN.COM, SERANG - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Serang mencatat sebanyak 115 kasus HIV/AIDS sepanjang Januari hingga Agustus 2025. 

Dari jumlah tersebut, kasus paling banyak didominasi oleh kelompok Lelaki Seks Lelaki (LSL).

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kabupaten Serang, Istianah Hariyanti, mengatakan ada sekitar 63 kasus yang berasal dari perilaku seksual berisiko pada LSL.

"Paling tinggi kasus HIV itu akibat lelaki seks lelaki, jadi perilaku itu beresiko tinggi terhadap penularannya," ujar Istianah kepada TribunBanten.com, Senin (29/9/2025).

Baca juga: Kasus HIV di Kabupaten Serang Capai 115, Tertinggi Ditemukan di Kramatwatu, Ini Daftar Sebarannya

Selain LSL, penularan HIV juga disebabkan oleh faktor umum atau tidak diketahui sebanyak 21 kasus, ibu hamil 9 kasus, pasien tuberkulosis (TB) 6 kasus, pasangan berisiko tinggi (Risti) 5 kasus.

Kemudian pasangan ODHA 4 kasus, waria 2 kasus, pasangan IMS 2 kasus, pelanggan pekerja seks 2 kasus, dan calon pengantin 1 kasus.

"Semua kasus itu tercatat sepanjang tahun 2025 dari Januari hingga Agustus," katanya.

Kasus Tertinggi di Kramatwatu

Berdasarkan data Dinkes Kabupaten Serang, temuan kasus HIV/AIDS terbanyak berada di RSUD Drajat Prawiranegara Serang dengan 33 kasus.

Sementara di tingkat kecamatan, Kramatwatu menjadi wilayah tertinggi dengan 13 kasus, disusul Ciruas 12 kasus, Cikande 6 kasus, Kibin 5 kasus, dan Petir 5 kasus.

Istianah menjelaskan, banyaknya temuan kasus di suatu wilayah belum tentu sepenuhnya berasal dari penduduk setempat. 

Hal itu bisa terjadi karena pasien memilih layanan kesehatan di luar daerah tempat tinggalnya untuk menghindari stigma.

"Jadi kalau kita hitung data berdasarkan faskes yang melakukan pemeriksaan, bukan karena berdasarkan KTP karena memang orang bebas memilih berobat kemana saja apalagi HIV itu stigma diskriminasi masih tinggi," ujarnya.

Upaya Eliminasi HIV/AIDS

Sumber: Tribun Banten
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved