Bagian II: Anak Kiai dari Ujung Sungai Cidurian

Penulis adalah Muhamad Roby, Ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten Serang. Aktivis sosial-keagamaan, dan penulis lepas

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Abdul Rosid
Muhammad Uqel/TribunBanten.com
Penulis adalah Muhamad Roby, Ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten Serang. Aktivis sosial-keagamaan, dan penulis lepas yang konsisten mengulas demokrasi, kemanusiaan, serta kebangsaan dari perspektif Nahdlatul Ulama. 

Penulis adalah Muhamad Roby, Ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten Serang. Aktivis sosial-keagamaan, dan penulis lepas yang konsisten mengulas demokrasi, kemanusiaan, serta kebangsaan dari perspektif Nahdlatul Ulama.

TRIBUNBANTEN.COM - Aku tumbuh di rumah yang separuh surau, separuh kebun.
Setiap pagi, embun menggantung di daun pisang, dan Sungai Cidurian di belakang rumah berdesir seperti ayat yang tak pernah berhenti dibaca.

Dari jendela kecil kamarku, kulihat airnya memantulkan cahaya mentari, seolah langit sedang mengaji di permukaan bumi.
Ayahku, KH. Umar bin ‘Arabi, membuka pengajian selepas Subuh.

Santri-santri duduk di tikar pandan, memegang papan kayu bertuliskan huruf Arab gundul.
Ayah memulai dengan suara lembut:

Baca juga: Bagian I: Benih Ilmu di Tanah Tanara

 “Bismillāhirraḥmānirraḥīm...”

Suara itu membelah kabut pagi seperti seruan dari masa depan.

Ia menatapku dan berkata,

 “Huruf-huruf ini hidup, Nak. Bacalah dengan hati, bukan hanya dengan lidah.

Aku duduk di dekat lututnya, menirukan setiap gerak bibirnya,
dan setiap kali ayah berbicara, Sungai Cidurian seakan ikut diam mendengarkan.

Ayahku bukan lelaki biasa. Ia berasal dari keluarga yang lama berakar dalam cinta ilmu dan dakwah.
Sebelum menetap di Tanara, beliau telah mengembara jauh, dari Tirtayasa hingga ke pulau-pulau timur Nusantara.

Dalam usia muda, Sultan Banten mempercayainya menjadi penghulu di wilayah Tirtayasa,
lalu mengutusnya ke beberapa daerah untuk membimbing umat.

Perjalanan itu membawanya menyeberang laut hingga ke Sumbawa, di mana ia sempat bertemu dengan Syekh Ismail, seorang ulama besar di sana.
Dari Sumbawa, ayah melanjutkan langkah ke Dompu, atas permintaan Sultan Dompu untuk menjadi qadhi kerajaan.

Namun jabatan tak pernah menjadi tujuan hatinya. Ia menolak untuk menetap,
dan memilih pulang ke tanah asalnya di Banten “lebih baik menjadi guru di surau kecil,” katanya, “daripada hakim di istana tanpa zikir.”

Dalam perjalanan pulangnya, ia singgah di Sumba dan Bima, bertemu dengan para ulama seperti Syekh Abdul Ghani Bima, yang kelak menjadi sahabatnya dalam dakwah lintas laut.

Nama ayah kemudian masyhur bukan karena pangkat, melainkan karena semangatnya yang tak pernah padam dalam menyalakan ilmu dan perlawanan terhadap ketidakadilan.

Sumber: Tribun Banten
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved