Utang Luar Negeri BI Naik Jadi 18,53 Miliar Dolar AS, Rupiah Tertekan Dekati Rp18.000

Utang luar negeri jangka pendek Bank Indonesia naik menjadi US$18,53 miliar pada kuartal I 2026 seiring derasnya dana asing masuk ke SRBI

Tayang:
Editor: Abdul Rosid
Kontan.co.id
Ilustrasi pinjaman atau utang - Utang luar negeri jangka pendek Bank Indonesia naik menjadi US$18,53 miliar pada kuartal I 2026 seiring derasnya dana asing masuk ke SRBI. 

TRIBUNBANTEN.COM - Tekanan terhadap nilai tukar rupiah masih berlanjut hingga akhir Mei 2026. Di tengah kondisi tersebut, utang luar negeri (ULN) jangka pendek Bank Indonesia (BI) tercatat mengalami kenaikan seiring derasnya aliran dana asing ke instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

Data Statistik Utang Luar Negeri Indonesia menunjukkan posisi ULN jangka pendek BI mencapai US$ 18,53 miliar pada kuartal I 2026. 

Angka tersebut meningkat dibandingkan akhir 2025 yang berada di level US$ 15,85 miliar.

Kenaikan ini terjadi setelah Bank Indonesia aktif menerbitkan SRBI untuk menjaga kestabilan rupiah dan menarik modal asing masuk ke pasar keuangan domestik.

Baca juga: Bank Woori Saudara Catat Penurunan Laba Bersih Jadi Rp106 Miliar pada Kuartal I 2026

Meski strategi tersebut berhasil meningkatkan minat investor asing, rupiah belum mampu keluar dari tekanan.

Berdasarkan perdagangan terbaru, mata uang Garuda ditutup melemah di kisaran Rp 17.796 per dolar AS dan mendekati level psikologis Rp 18.000.

Kepala Ekonom PermataBank, Josua Pardede, menilai kenaikan kepemilikan asing di SRBI perlu dicermati karena meningkatkan risiko pembalikan arus modal atau capital outflow yang dapat menekan rupiah dan cadangan devisa.

“Sebagian kenaikan ini terkait meningkatnya kepemilikan investor asing pada instrumen rupiah BI, terutama SRBI, sehingga dicatat sebagai kewajiban eksternal jangka pendek karena pemegangnya nonresiden. Ini berbeda dengan BI berutang dolar secara langsung,” ujar Josua kepada Kontan, Rabu (27/5/2026). 

Menurutnya, risiko utama bukan berasal dari gagal bayar valas, melainkan potensi pembalikan arus dana ketika investor asing keluar secara bersamaan. 

“Ketika investor keluar secara serentak, mereka akan melepas rupiah dan membeli dolar, sehingga tekanan pindah ke pasar valas dan cadangan devisa,” katanya. 

Meski begitu, Josua menilai posisi ULN jangka pendek BI masih relatif aman dibandingkan cadangan devisa April 2026 yang mencapai US$ 146,2 miliar. 

Namun, kondisi ini menunjukkan strategi stabilisasi rupiah makin bergantung pada dana portofolio jangka pendek. 

Ia menjelaskan, SRBI memang efektif menarik dana asing karena menawarkan imbal hasil menarik. BI juga telah menaikkan suku bunga SRBI tenor 6 bulan, 9 bulan, dan 12 bulan menjadi masing-masing 6,53 persen, 6,67 % , dan 6,76 % . 

Per 21 Mei 2026, posisi SRBI mencapai Rp 921,88 triliun dengan kepemilikan nonresiden sebesar Rp 220,06 triliun atau 23,87?ri total outstanding. 

“Angka ini membantu rupiah karena menciptakan permintaan terhadap aset rupiah, tetapi juga membuat stabilitas rupiah lebih sensitif terhadap perubahan sentimen global,” ujarnya. 

Sumber: Tribun Banten
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved