Virus Corona

Update Corona, Studi: Gejala Baru Virus Corona, Mendadak Pasien Tak Bisa Mencium Bau

Di Korea Selatan, China, dan Italia, sekitar sepertiga pasien yang dites positif virus corona mengaku penciumannya terganggu atau hilang.

Tayang:
Editor: Abdul Qodir
Grafis Tribunnews.com/Ananda Bayu S
Cegah virus corona 

Para profesor menyerukan kepada siapa saja yang memiliki gejala kehilangan indera penciuman dan perasa untuk mengisolasi diri selama tujuh hari untuk mencegah penyebaran penyakit lebih lanjut.

Satpol PP Kabupaten Tangerang Bubarkan Muda-mudi yang Asyik Nongkrong

Para muda-mudi asyik nongkrong di Alun-alun Pusat Pemerintahan Kabupaten Tangerang pada Sabtu (21/3/2020) malam.
Para muda-mudi asyik nongkrong di Alun-alun Pusat Pemerintahan Kabupaten Tangerang pada Sabtu (21/3/2020) malam. (Wartakotalive.com/Andika Panduwinata)

86 Persen Pasien Corona Tak Terdeteksi karena Minim Gejala

Sebelumnya, studi berbeda yang terbit di jurnal Science pada Senin (16/3/2020), menyatakan fakta mengejutkan lainnya.

Para ahli menemukan, sekitar 86 persen orang yang terinfeksi virus corona tidak terdeteksi dan hal ini memicu penyebaran corona makin cepat.

Dilansir Live Science, Rabu (18/3/2020), orang dengan Covid-19 yang tidak terdiagnosis kemungkinan karena mereka tidak merasa sakit.

Studi menemukan, para pasien yang tidak terdiagnosis justru menjadi sumber penyebaran terhadap dua pertiga dari kasus virus corona yang tercatat di China pada minggu-minggu awal kemunculan wabah.

Enam dari tujuh kasus positif virus corona tidak teridentifikasi di China sebelum ada aturan isolasi negara.

"Infeksi yang menyerang tidak diketahui (tidak memiliki gejala) sehingga mendorong penyebaran wabah," kata rekan penulis studi Jeffrey Shaman dari Columbia University Mailman School.

"Sebagian besar infeksi dalam fase ringan dan hanya ada sedikit gejala yang muncul, bahkan tidak ada. Banyak orang tidak sadar telah terinfeksi virus corona, kebanyakan mengira hanya flu ringan," ujar Shaman.

Infeksi yang tidak teridentifikasi ini disebabkan oleh orang yang positif virus corona tidak batuk dan bersin, apalagi demam.
Menurut para peneliti, fenomena "hantu" ini dapat menularkan penyakit dengan gejala lebih parah untuk orang lain.

Studi yang dilakukan menggunakan pemodelan komputer ini melacak infeksi sebelum dan sesudah penerapan lockdown diterapkan di Wuhan, China.

Wisma Atlet Siap Tampung Ribuan Pasien Corona, RS Khusus Corona di Pulau Galang Hampir Kelar

Petugas Palang Merah Indonesia (PMI) bersiap melakukan penyemprotan cairan disinfektan untuk membersihkan Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta, Sabtu (21/3/2020). Pemerintah telah menyiapkan Wisma Atlet Kemayoran sebagai rumah sakit darurat penanganan virus COVID-19, dan tempat tersebut akan menjadi rumah isolasi bagi pasien mulai Sabtu 21 Maret 2020.
Petugas Palang Merah Indonesia (PMI) bersiap melakukan penyemprotan cairan disinfektan untuk membersihkan Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta, Sabtu (21/3/2020). Pemerintah telah menyiapkan Wisma Atlet Kemayoran sebagai rumah sakit darurat penanganan virus COVID-19, dan tempat tersebut akan menjadi rumah isolasi bagi pasien mulai Sabtu 21 Maret 2020. (Tribunnews/Danny Permana)

Penelitian

Para peneliti mengembangkan model komputer untuk mensimulasikan penyebaran virus corona, virus yang menyebabkan Covid-19, di antara 375 kota di China, termasuk Wuhan, di mana wabah dimulai.

Untuk model, mereka menggabungkan data tentang infeksi yang dilaporkan dengan informasi tentang pergerakan orang (diperoleh dari data ponsel).

Ahli memperkirakan bahwa sebelum Wuhan ditutup atau lockdown pada 23 Januari 2020, sekitar 86 persen dari semua infeksi Covid-19 di China tidak terdeteksi.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved