Aktivitas di Rumah Selama PSBB Sebabkan Konsumsi Bahan Bakar Minyak Menurun
PT Pertamina (Persero) telah melaporkan kinerja di semester I-2020.Hasilnya, kinerja perusahaan minyak dan gas plat merah itu kurang menggembirakan
TRIBUNBANTEN, JAKARTA - PT Pertamina (Persero) telah melaporkan kinerja di semester I-2020.
Hasilnya, kinerja perusahaan minyak dan gas (migas) plat merah itu kurang menggembirakan.
PT Pertamina (Persero) membukukan rugi tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk senilai US$ 767,91 juta di periode Januari-Juni 2020.
Padahal, pada paruh pertama tahun 2019 lalu, Pertamina masih meraih laba bersih US$ 659,95 juta.
Kerugian itu tak lepas dari anjloknya penjualan dan pendapatan usaha Pertamina sepanjang semester I-2020 lalu.
Pengamat Ekonomi, Faisal Basri, menilai kerugian PT Pertamina (Persero) pada semester-I 2020 disebabkan dua hal.
Pertamina mengalami kerugian akibat penjualan bensin di sektor hilir migas dan kerugian penjualan minyak mentah di sektor hulu migas.
Sektor hilir yang mana Pertamina sebagai penjual bahan bakar minyak (BBM), kerugian Pertamina disebabkan oleh konsumsi BBM yang turun tajam pada transportasi darat dan udara selama triwulan-II 2020.
“Pembatasan sosial dengan aturan PSBB dimulai pada bulan April di berbagai daerah maka masyarakat pun tidak ada pengeluaran untuk bensin," kata Faisal Basri, Selasa (1/9/2020).
• Pemerintah akan Hapus Premium dan Pertalite, Dirut Pertamina Beri Alasan Ini
• Pertamina Pastikan Ketersediaan BBM dan LPG untuk Wilayah Banten-DKI-Jabar Saat Libur Panjang
Dia menjelaskan, PSBB diterapkan di beberapa daerah, tetapi itu berada di pulau Jawa. Sedangkan penggunaan BBM di seluruh pulau Jawa itu lebih dari setengah penggunaan BBM secara nasional.
Pada sektor hulu, dimana Pertamina sebagai penghasil minyak mentah, dirugikan dengan anjloknya harga minyak mentah dunia.
Tercatat pada Maret hingga April ini rata-rata harga minyak mentah dunia anjlok di kisaran US$ 30 per barel. Hingga saat ini harga minyak dunia belum pulih sampai harga di titik sebelum pademi covid-19, dikisaran 55 USD per barel.
“Harga minyak mentah dunia anjlok sedangkan ongkos untuk biaya operasional tidak turun, ya rugi,” kata Faisal Basri.
Pengamat ekonomi dan juga akademisi dari Universitas Indonesia ini mengatakan kerugian PT Pertamina senilai 767.91 juta USD atau setara Rp11.13 triliun pada semester I-2020 adalah kerugian yang paling kecil di antara kerugian yang dialami perusahaan migas diseluruh dunia.
“Hampir semua perusahaan migas dunia mengalami kerugian di masa pademi, namun Pertamina kerugiannya paling kecil,” jelasnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banten/foto/bank/originals/spbu-pertamina.jpg)