Tragedi Sriwijaya Air

Rumah Kontrakan Korban Sriwijaya Air di Kota Serang Banten Dibobol Maling, Masuk Lewat Atap

Kalau keluar, malingnya lewat pintu belakang karena memang pintunya hanya dikunci slot, jadi mudah dibuka

Penulis: Khairul Maarif | Editor: Agung Yulianto Wibowo
TribunBanten.com/Khairul Maarif
Maling rumah kontrakan korban pesawat Sriwijaya Air diduga masuk lewat atap rumah dengan menjebol plafon. 

Laporan Reporter TribunBanten.com Khairul Ma'arif

TRIBUNBANTEN.COM, KOTA SERANG - Rumah di Perumahan Taman Lopang Indah Blok FU 2 No 27, Kelurahan Unyur, Kecamatan Serang, Kota Serang, dibobol maling.

Rumah itu dikontrak Arneta Fauziah, satu di antara korban jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ 182.

Opung, seorang tetangga, mengaku tidak tahu kapan maling beraksi.

Baca juga: Rumah Korban Sriwijaya Air SJ 182 di Serang Banten Digondol Maling

Baca juga: Warga Serpong Berhasil Gagalkan Aksi Maling Motor di Kontrakan, Satu Pelaku Berhasil Tertangkap

Rumah itu baru diketahui dibobol maling setelah asisten rumah tangga korban melihat pintu belakang dalam kondisi terbuka, Sabtu (16/1/2021) sekitar pukul 16.30.

Dia kemudian memberitahukan hal itu kepada Opung.

"Saya langsung memberitahukan kepada ketua RT, dan bersama warga kemudian mengecek ke dalam," ujar pria berusia 66 tahun ini kepada TribunBanten.com, Minggu (17/1/2021).

Diduga maling masuk ke rumah korban dari bagian belakang yang menghadap ke Kali Ci Banten.

Maling naik ke atas sebagai tempat toren lewat belakang rumah.

Maling lalu menggeser empat genteng dan menjebol plafon yang tembus di satu kamar.

"Kalau keluar, malingnya lewat pintu belakang karena memang pintunya hanya dikunci slot, jadi mudah dibuka," kata Opung.

Dedi Kuswara (44), tetangga lainnya, mengatakan belum ada polisi yang datang meskipun sudah ada dari pemilik kontrakan yang melapor.

"Di sini kan beliau ngontrak. Pemilik rumah ini sudah melapor polisi," ucapnya.

Warga sekitar juga tidak tahu pasti barang apa saja yang sudah raib.

"Yang warga tahu barang yang hilang itu sepeda anak, dorongan bayi, dan tabung gas," ujarnya pria berusia 44 tahun ini.

Bersama tiga anaknya

Arneta Fauzi beserta ketiga anaknya yakni Zurisya Zuar (P) berusia 8 tahun, Umbu Kristin Zia (P) berusia 2 tahun dan Fao Nuntius Zai (L) yang masih bayi menjadi korban jatuhnya pesawat Sriwijaya Air di Kepulauan Seribu.

Rencananya, Arneta Fauzia terbang ke Pontianak, Kalimantan Barat untuk bertemu suaminya Yaman Zai (43) yang bekerja di sana.

Rumah kontrakan korban jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ 189 dibobol maling.
Rumah kontrakan korban jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ 189 dibobol maling. (TribunBanten.com/Khairul Maarif)

Total korban pesawat Sriwijaya Air SJ 182 yang sudah diidentifikasi tim Disaster Victim Identification (DVI) Polri sudah 24 orang hingga Sabtu (16/1/2021) petang.

Dalam konferensi pers di RS Polri Kramat Jati, Jakarta Timur, Sabtu, Kabiropenmas Divisi Humas Polri Brigjen Pol Rusdi Hartono mengatakan data itu sampai Sabtu pukul 17.00 WIB.

Pada Sabtu hari ini, tim DVI Polri mengidentifikasi 7 jenazah.

Jenazah tersebut berhasil teridentifikasi berdasarkan rekonsiliasi menggunakan dua metode.

Dua metode itu adalah pencocokkan antara sidik jari pada bagian tubuh korban yang ditemukan dengan sidik jari pada data e-KTP.

Selain itu, juga hasil pemeriksaan DNA yang sebelumnya diberikan pihak keluarga.

Berdasarkan data penerbangan Sriwijaya Air SJ-182 rute Jakarta-Pontianak, pesawat yang bertolak dari Bandara Soekarno-Hatta tersebut memiliki 62 manifes.

Terdiri atas 12 awak pesawat, dan 50 penumpang dengan rincian 40 dewasa, 7 anak-anak, dan 3 bayi.

Berdasarkan hasil Sabtu ini, artinya tinggal tersisa 38 korban yang masih belum teridentifikasi.

Sumber: Tribun Banten
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved