Cerita Pemuda Hijrah Kelahiran Tangerang Tubuh Penuh Tato, ada Dajjal sampai Joker, Kini Urus Masjid

Saya tinggal di sini sekarang, bantu-bantu bersih-bersih, azan, memang harus adaptasi. Alhamdulilah di sini menerima saya

KOMPAS.com/RISKA FARASONALIA
Ahmad Nur Kusuma Yuda di Masjid Jami Al-Istiqomah Jalan Kusuma Wardani, Pleburan. 

TRIBUNBANTEN.COM - Wajah Ahmad Nur Kusuma Yuda penuh tato

Tidak hanya di wajah, tato juga ada di tangan dan punggungnya.

Yuda mengaku semua tato yang melekat di tubuhnya itu merupakan hadiah sebagai kenang-kenangan saat bertandang ke rumah teman dari berbagai kota.

"Ada gambar mata Dajjal di panggung, gambar Bunda Maria di lengan kiri, gambar muka setan di telapak tangan kiri, dan gambar Joker di lengan kanan. Lalu gambar bio mekanik di wajah. Kalau keluar kota dapat kenang-kenangan tato dari teman," ujarnya kepada Kompas.com, Jumat (15/1/2021).

Pemuda berusia 21 tahun ini telah hijrah. 

Baca juga: Foto-foto Masjid Istiqlal Hasil Renovasi

Mengenakan serban putih di kepala dan gamis panjang dengan warna serupa, dia tampak tersenyum ramah.

Yuda sekarang tinggal dan banyak membantu di Masjid Jami Al-Istiqomah Jalan Kusuma Wardani, Pleburan, Kota Semarang.

"Saya tinggal di sini sekarang, bantu-bantu bersih-bersih, azan, memang harus adaptasi. Alhamdulilah di sini menerima saya," ungkapnya.

Sosoknya memang tampak menyeramkan dengan tato di wajah dan sekujur tubuhnya.

Namun, suaranya terdengar lembut saat berbicara dan jauh dari kesan gahar.

Baca juga: Sosok Ridwan Cowok Bertato yang Viral di TikTok Jemput Cewek Depan Gang, Ternyata Nikah Muda

Sejak kecil, pemuda kelahiran Tangerang ini memang lekat dengan tato. Semua tatonya ia dapatkan ketika dirinya memulai kisah hidupnya di jalanan.

Saat duduk di bangku taman kanak-kanak (TK) di Klaten dan sekolah dasar (SD), dirinya mengenyam pendidikan agama sebagai santri di pondok pesantren.

Setelah lulus SD, dia harus berpindah melanjutkan sekolah di pesantren dakwah di Salatiga. Namun, tak lama kemudian dia memutuskan untuk kabur lantaran tidak betah.

Ayahnya sempat mengembalikan Yuda ke pesantren itu, tetapi dirinya tidak kuat dan dipulangkan ke rumah.

Selang dua hari tinggal di rumah, lantas Yuda memulai pencarian jati dirinya dengan memilih hidup di jalan sebagai anak punk.

Halaman
123
Sumber: Kompas.com
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved