BPS: Pertama Sejak 1998, Ekonomi Indonesia Alami Kontraksi

Selama tahun 2020, pertumbuhan ekonomi di Indonesia mengalami kontraksi 2,07 persen dibandingkan pada tahun 2019.

Tayang:
Editor: Glery Lazuardi
Capture YouTube BPS Provinsi Banten
Kepala BPS, Suhariyanto menyampaikan rilis BRS Pertumbuhan Ekonomi Banten Triwulan 4 2020 

TRIBUNBANTEN.COM, JAKARTA - Selama tahun 2020, pertumbuhan ekonomi di Indonesia mengalami kontraksi 2,07 persen dibandingkan pada tahun 2019.

Ini merupakan untuk pertama kalinya Indonesia mengalami kontraksi pertumbuhan ekonomi setelah krisis moneter 1998.

"Untuk pertama kalinya Indonesia mengalami kontraksi sejak 1998. Pada 1998 karena krisis moneter dan 2020 mengalami pandemi,” ujar Kepala Badan Pusat Statistik atau BPS Suhariyanto, dalam konferensi pers yang digelar secara virtual, Jumat, 5 Februari 2021.

BPS Pusat Catat Konsumsi Rumah Tangga Alami Penurunan Selama Pandemi

Kepala BPS Pusat Suhariyanto : Ada 7 Sektor Tak Goyah Saat Pandemi, 10 Sektor perlahan Bangkit

Meski demikian, Suhariyanto menyebut Indonesia tak sendiri. Sejumlah negara juga mengalami kondisi serupa, bahkan kontraksinya lebih dalam.

Amerika Serikat misalnya, mengalami kontraksi hingga -3,5 persen. Tak beda dengan Uni Eropa. Lembaga resmi negara setempat mengumumkan Uni Eropa mengalami kontraksi -6,4 persen.

Sedangkan negara-negara di Asia seperti Hong Kong mengalami kontraksi dalam mencapai -6,1 persen; Singapura -5,8 persen; dan Korea Selatan -1,01 persen. Tercatat hanya dua negara yang saat ini mengumumkan pertumbuhan positif, yakni Cina dan Vietnam.

Berdasarkan struktur produk domestik brutonya atau PDB, selama 2020 hanya ada tujuh sektor di Indonesia yang mengalami pertumbuhan positif.

Angka pertumbuhannya pun masih melambat ketimbang tahun sebelumnya, terkecuali sektor telekomunikasi, keuangan dan asuransi, serta kesehatan dan kegiatan sosial.

“Untuk jasa kesehatan dan kegiatan sosial tumbuh 11,6 persen lebih tinggi dibanding pertumbuhan di 2019. Ini karena ada kenaikan pendapatan rumah sakit dan laboratorium serta klinik yang berhubungan dengan Covid-19,” ujar Suhariyanto.

Adapun sektor yang berkontribusi paling dalam terhadap struktur PDB yang menyebabkan pertumbuhan ekonomi mengalami kontraksi secara year on year ialah transportasi dan pergudangan sebesar -0,64 persen. Kemudian disusul industri pengolahan sebesar -0,61 persen.

Suhariyanto mengatakan pemulihan ekonomi pada 2021 tergantung pada penerapan protokol kesehatan dan kesuksesan vaksinasi.

“Kalau patuh protokol kesehatan dan vaksinasi lancar, sektor seperti transportasi bisa kembali seperti semula. Ini perlu kerja sama erat pemerintah dan masyarakat. Kalau masyarakat tidak patuh protokol ini akan jadi hambatan besar,” tuturnya.

Sementara itu, secara kumulatif pertumbuhan ekonomi Indonesia Tahun 2020 mengalami kontraksi 2,07 persen dibandingkan tahun 2019.

Pria yang karib disapa Kecuk menyatakan data inflasi pada triwulan IV 2020 0,79 persen secara kuartalan, namun dibandingkan dengan posisi Desember 2019 terjadi inflasi 1,68 persen.

BPS: 11,9 Juta Jumlah Penduduk Banten, Mayoritas Tinggal di Perbatasan dengan DKI Jakarta

Setengah dari 11,9 Juta Jiwa di Banten Berusia Produktif, BPS: Peluang Percepat Pertumbuhan Ekonomi

BPS mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia dilihat dari produk domestik bruto (PDB) secara kuartalan terkontraksi 0,42 persen di triwulan IV 2020.

Dia menjelaskan pertumbuhan ekonomi triwulan IV jika dilihat secara tahunan (year-on-year/yoy) terkontraksi 2,19 persen.

Menurut dia, pertumbuhan ekonomi triwulan IV tahun 2020 bila dibandingkan dengan triwulan IV tahun-tahun sebelumnya hanya terkontraksi tipis.

"Setiap triwulan keempat pertumbuhan ekonomi Indonesia negatif karena beberapa hal yang paling nyata misalnya saja masalah musiman untuk sektor pertanian. Di mana puncak musim panennya sudah jatuh di triwulan II," ucapnya.

Adapun realisasi Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) Triwulan IV 2020 mencapai Rp732,4 triliun atau naik dibanding realisasi periode yang sama tahun sebelumnya Rp704,22 triliun.

"Realisasi penanaman modal yang teratat di BKPM (PMA dan PMDN) selama triwulan IV 2020 sebear Rp124,7 triliun atau naik sebesar 2,7 persen (q-to-q) dan 3,1 persen (y-o-y)," pungkasnya.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved