Nikmati Pemandangan Kota Cilegon dari Atas Bukit, Masjid Agung Terlihat Jelas
Warungnya tepat berada di pinggir jalan berbukit untuk menuju ke Bukit Kedurung atau ke Bukit Watu Lawang.
Penulis: Khairul Maarif | Editor: Yudhi Maulana A
Humesi menuturkan warungnya ramai jika ada rombongan pesepeda yang sedang menuju atau turun dari Bukit Kedurung dan Bukit Watu Lawang.
"Biasanya ke sini pada istirahat minum," ujarnya kepada TribunBanten.com, Minggu (21/2/2021).
Minggu pagi menjadi waktu yang paling ramai pengunjung datang ke warung Humesi.
"Karena hari Minggu banyak yang bersepeda ke sini," ujarnya.
Warung yang didirikannya ini berdiri di atas tanah orang yang dipercayakan padanya.
"Dagang sekaligus nungguin tanah ini juga disuruh pemiliknya kalau untung warung buat saya," tuturnya.
Selain berdagang, Humesi juga bercocok tanam di lahan sebelah warungnya.
"Saya menanam kacang tanah buat tambahan makan aja ini mah," ujarnya.
Di warungnya, Humesi berjualan berbagai minuman hangat dan es.
"Minumannya harga Rp 3.000 - Rp 7.000 saja saya jualnya," tuturnya.
Ada juga mi rebus dan pop mie yang bisa disantap hangat-hangat.
"Harganya Rp 5.000 - 8.000 sudah siap santap," tutur pria 65 tahun ini.
Ada pasir dan batu kali di sebelah warung Humesi, dirinya menjelaskan akan dibangun saung di sebelah warungnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banten/foto/bank/originals/bukit-di-cilegon.jpg)