Cerita Manusia Silver di Serang, Bentol-bentol Hingga Dua Kali Ditangkap Satpol PP

Bak patung kedua remaja berpose selama beberapa detik di hadapan para pengendara mobil dan sepeda motor yang berhenti

Tayang:
Penulis: Amanda Putri Kirana | Editor: Abdul Qodir
TribunBanten.com/Amanda Putri Kirana
Dua manusia silver berpose di perempatan lampu merah Brimob, Jalan Raya Taktakan, Kota Serang, Banten, Sabtu (13/3/2021) siang. 

TRIBUNBANTEN.COM, SERANG - Di bawah teriknya matahari, dua remaja dengan tubuh bercat warna manusia silver bergaya di perempatan lampu merah Brimob, Jalan Raya Taktakan, Kota Serang, Banten, Sabtu (13/3/2021) sekitar pukul 12.30 WIB.

  

Bak patung kedua remaja berpose selama beberapa detik di hadapan para pengendara mobil dan sepeda motor yang berhenti saat lampu merah menyala.

  

Tidak lama kemudian, mereka menghampiri pengendara untuk meminta sumbangan dengan kardus yang dibawa.

  

Kedua remaja tersebut merupakan manusia silver di Kota Serang.

  

Ada satu hingga dua pengendara memasukkan uang ke kardus kedua remaja tersebut.

Dua manusia silver berpose di perempatan lampu merah Brimob, Jalan Raya Taktakan, Kota Serang, Banten, Sabtu (13/3/2021) siang.
Dua manusia silver berpose di perempatan lampu merah Brimob, Jalan Raya Taktakan, Kota Serang, Banten, Sabtu (13/3/2021) siang. (TribunBanten.com/Amanda Putri Kirana)

Namun, ada pula pengendara yang tidak memberi uang hingga ada bersikap acuh.

 
Senyum sumringah dan ucapan terima kasih mereka lemparkan saat pengendara memasukkan uang ke dalam kardusnya.

Sebelum lampu lalu lintas warna hijau menyala, mereka segera beranjak ke tepi jalan.

  

Baca juga: Melongok Situs Patapan Peninggalan Zaman Megalitikum di Serang, Kerap Dikunjungi Peziarah

Baca juga: Indah dan Sejuknya Situs Patapan Serang Kerap jadi Lokasi Syuting

Sebagai manusia silver, sekujur tubuh mereka dari ujung kepala hingga ujung kaki dilumuri cat silver mengkilap hingga seperti memantulkan sinar matahari.

   

Tubuhnya bertelanjang dada dan hanya memakai celana panjang saat melakukan aksi tersebut.

Satu di antaranya adalah Irwansyah, sosok manusia silver yang mengaku sudah 1 tahun mengais rezeki melalui profesi ini. 

  

“Posenya hormat, kayak upacara bendera gitu,” kata Irwansyah kepada TribunBanten.com di Jl. Raya Taktakan, Kamis (11/03/2021).

Dua manusia silver berpose di perempatan lampu merah Brimob, Jalan Raya Taktakan, Kota Serang, Banten, Sabtu (13/3/2021) siang.
Dua manusia silver berpose di perempatan lampu merah Brimob, Jalan Raya Taktakan, Kota Serang, Banten, Sabtu (13/3/2021) siang. (TribunBanten.com/Amanda Putri Kirana)

Ia mulai beraksi pada pukul 09.00 WIB hingga 18.00 WIB. 

Baca juga: Kisah Perajin Asal Kabupaten Serang, Buat Miniatur dari Limbah Kayu Jadi Cendera Mata di Acara PBB

Tidak hanya di lampu merah Brimob, Taktakan, ia juga mencari peruntungan di beberapa titik persimpangan lampu merah lainnya di Kota Serang, seperti di pisang mas, sumur pecung, dan ciceri.

Irwasyah mengatakan, dirinya sempat dua kali tertangkap razia Satpol PP saat menjadi manusia silver.

“Baru-baru ini ditangkap satpol pp dan dibawa ke kantornya. Setelah sampai disuruh jalan jongkok, nyapu, ngepel, dan push up. Terakhir dibotakin, tapi saya lolos dari hukuman ini,” ungkap pria 29 tahun ini.

  

Baca juga: Kisah Kakek Edi Rosadi, Tak Gentar Atur Lalu Lintas di Keramaian Kota Meski Tertabrak Berkali-kali

Sempat terjadi aksi kejar-kejaran pada awalnya karena ia khawatir akan mendapatkan perlakukan buruk dan ditahan berhari-hari.

  

Ia diamankan Satpol PP bersama beberapa manusia silver lainnya dan pengemis yang berada di persimpangan jalan Kota Serang.

  

Meski begitu, ia tidak kapok menjadi manusia silver

  

Pekerjaan ini tetap ia lakoni karena tuntutan untuk memenuhi kebutuhan hidup.

  

Terlebih saat ini ia harus menafkahi istri dan anak balitanya. 

 
Irwansyah menceritakan, sebelumnya ia  adalah seorang kuli bangunan.

  

Pandemi covid-19 membuatnya kehilangan pekerjaan tersebut, sehingga menjadi manusia silver menjadi satu-satunya cara untuk menyambung hidup.

  

“Pekerjaan hilang. Untuk beli 1 telor pun tidak mampu. Keluarga sering kelaparan di rumah, jadi ya mau tidak mau harus bekerja seperti ini,” ujar Irwansyah. 

  
Dalam sehari, biasanya ia hanya meraup uang sekitar Rp 50.000 sampai Rp 70.000.

 
Itu pun masih penghasilkan kotor.

  

Untuk menjadi manusia silver, Irwansyah harus mengeluarkan modal untuk membeli cat, minyak, dan sabun cuci piring.

   

Cat yang digunakan adalah cat sablon silver yang di campur dengan minyak tanah atau minyak goreng dengan rasio 50:50. 

    

Saat dibalurkan ke tubuh, cat dapat luntur karena memeleh terpapar sinar matahari. 

   
Oleh karena itu, dalam sehari proses pengecatan dilakukan berkali-kali.

   
Sabun cuci piring digunakan untuk membersihkan dan melunturkan cat setelah selesai beraksi.

   

Ia juga harus menggosok tubuhnya dengan plastik agar cat benar-benar terangkat.

   

Sejak menjadi manusia silver, Irwansyah sering kali mengalami iritasi dan bentol-bentol.

   

Tak jarang iritasi tersebut menjadi luka kemerahan dan terasa panas.

   

“Awal jadi manusia silver enggak betah. Apalagi saat kulit sedang iritasi tapi harus ditimpa cat lagi, rasanya pedih dan panas seperti terbakar” jelas Irwansyah.

   

Irwansyah sadar bahwa apa yang ia lakukan ini melanggar aturan, namun ia berharap agar pemerintah tidak terlaku keras kepada manusia silver karena menurutnya saat ini semua sudah serba susah.

   

“Sempat ditanya Satpol PP apa tidak ada pekerjaan lain. Ya kalau ada saya tidak mungkin melakukan pekerjaan ini. Selama kami mencari uang dengan tertib dan tidak menggangu jalan, harusnya bisa dikasih kelonggaran sedikit,” katanya.

Sumber: Tribun Banten
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved