Breaking News:

Hakekok Balakasuta

Keseharian Anggota Aliran Hakekok di Pandeglang: Hidup Menumpang dan Bekerja Serabutan

Selama satu minggu terakhir ini, Kecamatan Cigeulis, Kabupaten Pandeglang, Banten menjadi pusat perhatian.

Penulis: Marteen Ronaldo Pakpahan | Editor: Glery Lazuardi
Tangkapan layar video
Pimpinan aliran Hakekok, Arya (baju oranye) dan belasan pengikutnya ikut berdoa saat serah terima dari Badan Koordinasi Pengawasan Aliran Kepercayaan Masyarakat (Bakorpakem) Kabupaten Pandeglang ke pengasuh Pondok Pesantren Ponpes Roudlotul Ulum, Abuya Muhtadi, di Kecamatan Cidahu, Pandeglang, Senin (15/3/2021). 

Laporan wartawan Tribunbanten.com, Marteen Ronaldo Pakpahan

TRIBUNBANTEN.COM, PANDEGLANG - Selama satu minggu terakhir ini, Kecamatan Cigeulis, Kabupaten Pandeglang, Banten menjadi pusat perhatian.

Hal ini setelah ada 16 orang yang terlibat aliran Hakekok Balakasuta. Salah satu ajarannya memperbolehkan mereka mandi bersama.

Ritual itu viral di media sosial. Sehingga, akhirnya aparat kepolisian melakukan penindakan.

Baca juga: UPDATE Aliran Hakekok di Pandeglang: Polisi Hentikan Proses Hukum

Baca juga: FAKTA Aliran Hakekok Sudah Ada Sejak 1980, Eksis di Pandeglang 2018 dengan Nama Blokosuto

Kapolres Pandeglang AKBP Hamam Wahyudi menceritakan bagaimana kehidupan anggota aliran Hakekok Balakasuta tersebut.

Menurut dia, kehidupan anggota aliran itu sangat memprihatinkan dan jauh dari kata layak.

Berdasarkan pengakuan ketua kelompok, yaitu Abah Arya, kata dia, mereka tinggal berpindah-pindah dan terkadang menumpang di rumah anggota kelompok.

"Kehidupan mereka itu nomaden (berpindah-pindah,-red). Perekonomian juga sangat sulit, karena apa yang mereka lakukan itu juga salah," kata dia, saat dihubungi, Selasa (16/3/2021).

Dia menjelaskan, untuk menyambung hidup, anggota kelompok bekerja serabutan.

Baca juga: Tiga Anak-anak Pengikut Aliran Hakekok akan Diberikan Trauma Healing

Baca juga: Dibina di Ponpes Abuya Muhtadi, Pengikut Aliran Hakekok di Pandeglang Nangis saat Pertobatan

Sebagian di antara mereka bekerja sebagai petani di ladang orang, dan juga apabila terdapat nelayan yang ingin melaut, maka para anggota sebagian juga ikut dalam kapal.

Hal tersebut dilakukan sebagai penunjang kehidupan para anggota dan keluarganya masing-masing yang masih hidup di bawah garis kemiskinan.

"Dibilang petani juga akan tetapi tidak pasti juga, karena kan serabutan dan itu kerja di ladang orang. Ada juga yang ikut nelayan di kapal mencari ikan, tetapi hidupnya juga susah," tegasnya.

Dia menghimbau masyarakat agar tidak mudah terpercaya dengan hasutan dan janji manis yang ditawarkan oleh siapapun untuk merubah aliran agama yang ada.

Sumber: Tribun Banten
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved