Breaking News:

Ramadan 2021

Jelang Tradisi Qunutan, Warga Serang Sibuk Membuat Cangkang Ketupat

Cangkang ketupat tersebut kemudian diisi beras untuk dibuat ketupat matang yang akan dibawa ke masjid jelang salat tarawih.

TribunBanten.com/Desi Purnamasari
Tradisi Kupat Qunutan warga Kabupaten Serang akan berlangsung esok hari, Selasa (27/4/2021) 

Laporan Wartawan TribunBanten.com, Desi Purnamasari

TRIBUNBANTEN.COM, SERANG - Menyambut Tradisi Qunut atau pertengahan Ramadan yang akan jatuh pada Selasa (27/4/2021), warga Kabupaten Serang mulai membuat cangkang ketupat.

Sejumlah warga Desa Malabar, Kecamatan Bandung, Kabupaten Serang. Mulai membuat cangkang ketupat di rumahnya masing-masing untuk digunakan esok hari, Selasa (27/4/2021).

Cangkang ketupat tersebut kemudian diisi beras untuk dibuat ketupat matang yang akan dibawa ke masjid jelang salat tarawih.

Kupat Qunutan, begitu warga menyebutnya, akan dibagikan ke warga setelah salat tarawih.

Uniknya, yang dibawa hanya ketupat, tanpa ada sayur atau lauk lainnya.

Tradisi Kupat Qunutan ini biasanya dilakukan pada hari ke 15 dan ke 16 puasa.

Baca juga: Tradisi Ziarah Makam, Ramai Peziarah di Blok Khusus Jenazah Covid-19 TPU Jombang

Baca juga: Sejarah April Mop: Asal Mula Tercipta, Tradisi Tipuan dan Lelucon hingga Ternyata Ada Banyak Versi

Tokoh Masyarakat Desa Malabar, Abah Johani mengatakan Kupat Qunutan merupakan tradisi lama yang masih diwariskan hingga saat ini. 

Ia belum mengetahui pasti kapan awal mula tradisi ini dimulai.

Ada yang menyebutkan tradisi itu telah berlangsung sejak zaman Kesultanan Demak ketika memperluas pengaruhnya ke daerah barat pada 1524. 

"Ada harapan warga ingin meraih malam Lailatul Qadar yang ada pada penghujung Ramadan. Tradisi itu juga sebagai bentuk rasa syukur Umat Islam karena berhasil menjalani separuh Ramadan," ungkapnya kepada TribunBanten.com, Senin (26/4/2021). 

"Ketupat ini nantinya akan dibawa ke Masjid dan dibagikan kembali lalu dibawa pulang ke rumah yang nantinya akan disajikan bersama opor ayam atau sayur kulit melinjo," tambah Abah Johani.

Selain itu seiring berkembangnya zaman, sudah tidak perlu repot membuat ketupat sendiri karena sudah bisa dibeli di pasar tradisional.

Ia pun berharap tradisi ini akan terus berlangsung dan tetap dipertahankan kedepanya. 

Penulis: desi purnamasari
Editor: Yudhi Maulana A
Sumber: Tribun Banten
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved