Menyusuri Museum Multatuli Lebak, Tempat Bersejarah Seorang Penulis Terkenal Douwes Dekker
Max Havelaar berisi tentang kritik terhadap penyelewengan bupati dan kepala residen pada sistem tanam paksa yang berlaku di Hindia Belanda.
Penulis: Marteen Ronaldo Pakpahan | Editor: Abdul Qodir
Laporan wartawan TribunBanten.com, Marteen Ronaldo Pakpahan
TRIBUNBANTEN.COM, LEBAK - Tribunbanten.com kembali menyajikan tempat bersejarah nan keren di Provinsi Banten yang bisa dikunjungi warga di akhir pekan.
Banten sendiri memiliki banyak bukti peninggalan sejarah perjalanan bangsa Indonesia. Satu di antaranya adalah Museum Multatuli yang berada di Alun-Alun Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Banten.
Nama Museum Multatuli diambil dari nama pena seorang penulis berkebangsaan Belanda bernama Eduard Douwes Dekker.
Ia adalah seorang asisten residen Lebak yang bermukim di Rangkasbitung pada bulan Januari hingga Maret 1856.
Douwes Dekker sebagai penulis dikenal dengan karya novel fenomenalnya berjudul Max Havelaar yang ditulis pada 1860. Novel tersebut ditulis Douwes Dekker setelah berada di Belgia.
Baca juga: Pertama Kali dalam Sejarah, Perwakilan Masyarakat Baduy Datangi Rumah Dinas Kapolda Banten
Novel Max Havelar menjadi salah satu karya penting yang membahas sejarah Lebak dan Banten, sehingga pemerintah Kabupaten Lebak memutuskan untuk mendirikan sebuah museum yang diberi nama Museum Multatuli.
Max Havelaar berisi tentang kritik terhadap penyelewengan bupati dan kepala residen pada sistem tanam paksa yang berlaku di Hindia Belanda.
Museum Multatuli berdiri di lahan seluas 1.842 meter persegi, dengan sejumlah ornamen sangat unik dan indah.
Baca juga: Gedung Juang 45, Pusat Edukasi dan Wisata Sejarah di Kota Serang Resmi Dibuka untuk Umum
Bangunan yang sudah mulai ada sejak tahun 1923 ini sempat mengalami sedikit perbaikan dengan penggabungan antara ilustrasi grafis dan sentuhan multimedia modern hingga artefak penting.
Museum Multatuli terbagi menjadi tujuh ruangan dan empat tema.
Tema pertama khusus mengisahkan sejarah awal penjajahan di Indonesia, sedangkan tema kedua membahas tentang pribadi tokoh Multatuli dan novelnya yang berjudul Max Havelaar.
Adapun tema ketiga mengisahkan tentang sejarah Banten dan Lebak. Sedangkan tema keempat mengisahkan sejarah Rangkasbitung.
Baca juga: Indahnya Danau Tasikardi Serang, Peninggalan Sultan Banten untuk Ibunda
Di mesum tersebut terdapat patung Dowes Dekker sedang memegang sebuah buku diopang kedua kakinya. Terdapat pula patung Saidjah dan Adinda yang begitu fenomenal.
Melongok bagian dalam pendopo museum, terdapat sebuah gamelan dan alat musik lainnya yang sering digunakan sebagai pertunjukkan seni anak-anak.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banten/foto/bank/originals/patung-douwes-dekker-di-museum-multatuli.jpg)