Menyusuri Museum Multatuli Lebak, Tempat Bersejarah Seorang Penulis Terkenal Douwes Dekker
Max Havelaar berisi tentang kritik terhadap penyelewengan bupati dan kepala residen pada sistem tanam paksa yang berlaku di Hindia Belanda.
Penulis: Marteen Ronaldo Pakpahan | Editor: Abdul Qodir
Di dalam musem tersebut juga terdapat panjangan foto Dowes Dekker dan tempat pertunjukkan seni teater dan juga bersampingan dengan perpustakaan terbesar di Banten yakni Saidjah dan Adinda.
Selain itu, Museum Multatuli juga dilengkapi informasi sejarah dengan menggunakan multimedia berupa audio dan video yang ditampilkan melalui layar monitor. Ada juga koleksi informasi sejarah dalam bentuk artefak, buku-buku, foto, podcast, infografis, dan gambar.
Baca juga: Pesona Bukit Curahem Lebak, Destinasi Wisata Alam Yang Indah Nan Romantis
Di bagian halaman depan ruang pameran para pengunjung akan diperlihatkan dengan sebuah tulisannya yang sangat fenomenal 'Tugas Seorang Manusia Adalah Menjadi Manusia'.
Selain itu, tulisan-tulisan Max Havelar yang memberikan perlawanan kepada bangsanya sendiri dijejerkan dan menjadi penyemangat bagi para tokoh bangsa pada saat itu untuk merebut Tanah Air.
Ada juga koleksi seperti novel Max Havelaar edisi pertama yang masih berbahasa Perancis (1876), tegel bekas rumah Multatuli, litografi/lukisan wajah Multatuli, peta lama Lebak, arsip-arsip Multatuli, dan buku-buku lainnya.
Kemudian, yang menarik adalah terdapat bukti fisik, surat-menyurat Multatuli dengan pejabat Hindia Belanda tentang kondisi masyarakat Lebak, foto-foto, serta novel Max Havelaar terbitan pertama.
Kepala Museum Multatuli Ubaidillah Muchtar, mengatakan kisah seorang Max Havelar akan terus diingat oleh para pencinta sejarah berdirinya bangsa dan negara ini.
Baca juga: Indah dan Sejuknya Situs Patapan Serang Kerap jadi Lokasi Syuting
Karena menurutnya, sosok Dowes Dekker sendiri yang mampu mengilusi masyarakat dengan tulisan-tulisan secara tidak langsung menunjukkan bagi kita untuk mau terus maju dan melepaskan budaya yang menyengsarakan.
"Max Havelaar, dia ingin membuka mata dunia tentang busuknya kolonialisme di Hindia Belanda. Ide-ide itu menginspirasi tokoh-tokoh pendiri bangsa, seperti Sukarno, untuk memerdekakan Indonesia," terangnya saat ditemui di Museum Multatuli, Sabtu (12/6/2021).
Ia juga menjelaskan max sangatlah peduli dengan pendidikan masyarakat Kabupaten Lebak kala itu yang dilihatnya sangat buta huruf dan tertinggal dari negara lainnya.
Hal tersebut tak lepas dari adanya sistem kerja Rodi zaman kolonialisme yang membuat masyarakat dan anak-anak tak dapat bersekolah dengan layak.
"Sosoknya menjadi inspirasi bagi kami semua tentang artinya perjuangan untuk menggapai pendidikan dan melepaskan kebodohan khususnya di Kabupaten Lebak," tegasnya.
Karena terinspirasi peran Max Havelaar terhadap bangsa Indonesia, Pemerintah Kabupaten Lebak memutuskan untuk menjadikan bekas kantor dan kediaman Wedana Lebak yang dibangun pada 1920 sebagai museum. Dan sejak tahun 2018, museum itu telah diresmikan oleh Bupati Lebak, Iti Octavia Jayabaya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banten/foto/bank/originals/patung-douwes-dekker-di-museum-multatuli.jpg)