Breaking News:

Profil Martha Siahaan, Direktur Cantik RS Premiere Bintaro, Langsung Gas Pol Begitu Menjabat

Saya jadi direktur RSPB pada 18 Mei 2020. Waktu itu rumah sakit sepi sekali karena awal pandemi Covid-10

dokumentasi pribadi
Direktur Rumah Sakit Premiere Bintaro dr Martha ML Siahaan 

Laporan Wartawan TribunBanten.com, Agung Yulianto Wibowo

TRIBUNBANTEN.COM, TANGSEL - Dalam hitungan bulan, Rumah Sakit Premiere Bintaro (RSPB) mampu bangkit dari guncangan akibat dampak pandemi Covid-19.

Guncangan bisnis RSPB mulai terasa pada Mei 2020 atau setelah dua bulan pengumuman kasus Covid-19 pertama di Indonesia.

Pada bulan itu, Martha ML Siahaan baru saja ditunjuk sebagai direktur utama RSPB.

Dia menggantikan direktur sebelumnya yang memasuki masa pensiun.

“Saya jadi direktur RSPB pada 18 Mei 2020. Waktu itu rumah sakit sepi sekali karena awal pandemi Covid-10. Orang takut dan rumah sakit jadi tempat yang dihindari,” ujarnya kepada TribunBanten.com di ruang kerjanya, Selasa (15/6/2021).

Martha mengakui tantangannya begitu luar biasa.

Baca juga: Profil Pemenang Saija dan Adinda Lebak 2021, Berbagi Tips Promosi Destinasi Wisata di Masa Pandemi

Apalagi, dia baru saja menjabat.

Sebelum menjadi direktur di RSPB, ibu dua anak ini menjabat sebagai direktur Medis di Rumah Sakit Premiere Jatinegara, Jakarta, selama lebih dari delapan tahun.

“Tapi kita harus gas pol, harus lari cepat supaya tidak ketinggalan di pasar,” kata perempuan berkulit putih ini.

Sedikitnya pasien yang mendatangi rumah sakit berdampak pada pendapatan.

Dia mengakui pendapatannya sangat kecil sekali.

Namun, dalam situasi yang sulit itu, Martha mengaku tidak ada satu pun pegawai rumah sakit yang dikeluarkan atau dirumahkan.

Baca juga: Profil Muhamad Darussalam, Atlet Renang Asal Kabupaten Serang, Raih Berbagai Prestasi di Usia Remaja

Mereka justru menambah orang karena kebutuhan tenaga kesehatan begitu tinggi pada masa pandemi Covid-19 ini.

“Saya berusaha untuk membuat situasi kritis ini menjadi opportunity,” ujar perempuan berambut bergelombang ini.

Dia kemudian berinovasi memanfaatkan teknologi yang ada, seperti menggelar webinar via Zoom dan memaksimalkan digital marketing.

Bahkan, RSPB menggelar webinar dan dihadiri sekitar 5.000 peserta dari segala penjuru Tanah Air.

“Bayangkan, dulu mengumpulkan 100 orang saja ribet. Tapi ini bisa sampai lebih 5.000 orang,” katanya.

Webinar itu digelar untuk berbagi pengalaman, keilmuan, dan informasi.

Baca juga: Profil Fatah Sulaiman, Rektor Untirta yang Gemar Membikin Puisi untuk Mengasah Otak Kanan

Beberapa waktu yang lalu, RSPB kemudian menggelar webinar bertema “Perlindungan Hukum bagi Perawat”.

Tanpa disangka, peserta webinar dalam rangka Hari Perawat Internasional ini tembus lebih dari 6.000-an akun.

“Pada masa pandemi Covid-19 ini orang salah berprasangka terhadap rumah sakit dan tenaga kesehatan. Memang masyarakat juga dalam suasana yang tidak nyaman,” ucap Martha.

Menurut dia, sejumlah webinar yang digelar RSPB bisa meningkatkan brand awareness.

Orang semakin mengenal dan memahami RSPB, bukan hanya sebagai rumah sakit, tapi juga media yang memberikan informasi-informasi, terutama selama pandemi Covid-19 ini.

Direktur Rumah Sakit Premiere Bintaro dr Martha ML Siahaan
Direktur Rumah Sakit Premiere Bintaro dr Martha ML Siahaan (dokumentasi pribadi)

“Itu menjadi kebutuhan masyarakat juga,” ujar pencinta teh ini.

Perlahan tapi pasti, Martha mengaku merasakan pertumbuhan pendapatan rumah sakit.

Pertumbuhan itu mulai terlihat pada Juni atau sebulan setelah dia menjabat sebagai direktur.

Pada Januari 2021 sampai sekarang, pertumbuhannya bahkan hampir kembali seperti sebelum masa pandemi Covid-19.

Baca juga: Profil Veronika Dian Faradisa, Perempuan Perbatasan dan Aktris Terbaik yang Memimpin Humas Untirta

“Bahkan, hari ini penuh. Kalau berbicara rumah sakit kosong, sedih, tapi penuh juga sedih. Jika penuh, menjadi ketidakberdayaan yang luar biasa, ingin membantu tapi tidak ada tempatnya,” kata Martha.

Baginya, kunci yang paling utama adalah menganggap apa yang dilakukan sebagai jalan ibadah.

Dia juga mengajak karyawan rumah sakit, apapun background-nya untuk melihat pekerjaannya sebagai ibadah.

“Yang dilayani itu manusia. Sekarang kita melayani, suatu saat nanti kita lho yang dilayani sebagai pasien. Apa yang kita lakukan sekarang, suatu saat nanti kita akan menuainya,” ucapnya.

Martha memulai karier sebagai dokter setelah lulus dari Fakultas Kedokteran Trisakti.

Dia menjadi dokter umum di instalasi gawat darurat (IGD) dan poli.

Cita-citanya adalah menjadi dokter spesialis bedah plastik.

Namun, perempuan berusia 51 tahun ini tidak lulus saat mengikuti ujian spesialis bedah plastik.

“Saya senang aja dengan spesialis bedah plastik, kok bisa mengubah orang. Jadi, keren gitu,” katanya seraya tersenyum.

Baca juga: Profil Patrich Wanggai, Kekuatan Baru RANS Cilegon FC untuk Mewujudkan Asa Lolos Liga 1

Cita-citanya itu yang membuat Martha tidak menerima penawaran beasiswa Magister Adm Rumah Sakit di Universitas Indonesia (UI).

Namun, di beberapa tempat, Martha sering ditunjuk sebagai koordinator dokter umum.

Pada 2004, Martha mendapat kepercayaan untuk menjabat sebagai direktur rumah sakit ibu dan anak di Jakarta.

Saat itu, dia mengaku tidak benar-benar paham tentang manajerial, terutama neraca keuangan.

Untuk itu, pada 2007, dia mengambil Magister Adm Rumah Sakit di UI.

Setelah lulus pada 2009, dia kemudian menjabat sebagai manajer di sebuah rumah sakit swasta di Jakarta.

“Saya sempat bingung, kenapa di manajerial lagi. Padahal saya ingin di IGD saja,” katanya.

Martha kemudian melanjutkan studinya untuk belajar hukum di Magister Hukum Kesehatan Universitas Katolik Soegijapranata, Semarang.

Bahkan, kini dia sedang menempuh pendidikan S1 Hukum di Universitas Krisnadipayana.

Sebelum di RSPB sebagai dirut, Martha menjadi direktur pelayanan Medis dan Penunjang Medis di Rumah Sakit Premiere Jatinegara.

Martha sudah tiga kali menjadi direktur dari perjalanan kariernya di enam rumah sakit.

“Kalau mau ditanya apa lagi, saya hanya ingin jadi insan yang berguna bagi sesama manusia dan ingin melihat anak-anak saya menjadi orang yang hebat,” ucapnya.

Untuk menjaga kesehatan dan terlihat awet muda, Martha mengaku tidak ada perawatan khusus.

“Mungkin karena banyak bergaul dengan anak muda, jadi pikirannya muda terus. Dibawa hepi aja,” katanya seraya tertawa.

Sumber: Tribun Banten
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved