Breaking News:

Penghafal Al Quran di Pandeglang Mengidap Leukimia Setelah Terjatuh saat Ambil Wudhu

Amel merupakan anak ke empat dari lima bersaudara. Sang ayah yang merupakan penjual nasi goreng di Jakarta dan ibunya hanya seorang ibu rumah tangga.

Penulis: Marteen Ronaldo Pakpahan | Editor: Abdul Qodir
Dok. Pribadi
Amel (14), hafidza atau penghafal Al-Quran di Kabupaten Pandeglang harus terbaring sekitar tujuh bulan setelah mengidap kanker darah atau leukimia. 

Laporan wartawan TribunBanten.com, Marteen Ronaldo Pakpahan

TRIBUNBANTEN.COM, PANDEGLANG - Amel (14) harus terbaring sekitar tujuh bulan usai dirinya mengidap kanker darah atau leukimia.

Remaja tersebut merupakan hafidza atau penghafal Al-Quran yang cukup pintar dan berprestasi di salah satu pondok pesantren di Pandeglang.

Ia merupakan warga Kampung Kadu Dampit, Desa Pasir Karang, Kecamatan Koroncong, Kabupaten Pandeglang, Banten.

Amel merupakan anak ke empat dari lima bersaudara. Sang ayah yang merupakan penjual nasi goreng di Jakarta dan ibunya hanya seorang ibu rumah tangga.

Yusti (45), ibu kandung dari Amel menceritakan pada saat kejadian anaknya harus menderita leukimia pertama kalinya.

Baca juga: Kisah Cleaning Service di Solo Ingin Barter Sepatunya dengan Susu Anak, Langsung Direspons Polisi

Baca juga: Mimpi Nurul Fatiah, Anak Petani Asal Kabupaten Serang Penghafal 30 Juz Al-Quran

Pada saat itu, sang anak sedang mengambil wudhu dan tanpa sengaja terpeleset di kamar mandi pondok pesantren sehingga membuat dirinya terjatuh.

Kondisinya semakin parah usai ia menahan sakit pada bagian kakinya dan timbul kemerahan pada bagian mata usai beberapa bulan setelah kejadian tersebut.

"Parah-parahnya banget itu udah hampir 6 bulanan, jatuh pas lagi mondok di Kadu pinang. Jadi, ada air habis ambil wudhu, terus terpeleset sampai jatuh. Terus bagian pantatnya yang terduduk. Setelah satu bulan pulang, pas pulang kerasa begitu. Jadi, kakinya langsung sakit hingga ke matanya bengkak merah," ujarnya saat dihubungi, Rabu (4/8/2021).

Baca juga: Kisah Penjual Bendera di Kota Serang Jelang Agustusan, Lima Hari Jualan Laku Tiga Buah 

Pasca-kondisi semakin parah, ia hanya dapat memberikan rasa sayangnya kepada sang buah hati yang terus merengek kesakitan akibat penyakit kankernya tersebut.

"Setiap malam ia menangis, dia berusaha menutup matanya. Karena cahaya lampu pun terasa perih di mata amel, oleh karena itu bagian mata kita tutup dengan kain," sambungnya.

Ia menunggu bantuan dari pemerintah agar dapat meringankan beban dari sang anak yang sampai saat ini belum mendapatkan penanganan lanjutan.

"Belum ada bantuan dari kelurahan, kecamatan, maupun kabupaten. Saya berharap, semoga ada uluran tangan dari para dermawan yang memiliki rezeki lebih untuk membantu pengobatan anak saya," tutupnya.

Sumber: Tribun Banten
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved