Kisah Pembersih Makam di Pandeglang: "Pagi-pagi Makan Bubur, Sore Nganggur, Pasrah Sama Tuhan!"

Sartaman (87), warga Talaga Paheut, Desa Parumasan, Kecamatan Cipeucang, Kabupaten Pandeglang, Banten menceritakan kehidupan sehari-hari.

Penulis: Marteen Ronaldo Pakpahan | Editor: Glery Lazuardi
TRIBUNBANTEN/MARTEENRONALDOPAKPAHAN
Sartaman (87), warga Talaga Paheut, Desa Parumasan, Kecamatan Cipeucang, Kabupaten Pandeglang, Banten 

TRIBUNBANTEN.COM - Sartaman (87), warga Talaga Paheut, Desa Parumasan, Kecamatan Cipeucang, Kabupaten Pandeglang, Banten menceritakan kehidupan sehari-hari.

Pria ini mencari nafkah dengan cara membersihkan kuburan yang ada di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Talaga Paheut.

Baca juga: Kisah Sopir Ambulans Salip Rombongan Presiden Jokowi di Samarinda, Sempat Kaget hingga Bilang Izin

Baca juga: Kisah Seorang Ayah di Lebak Minta Seragam Bekas ke Tetangga Untuk Anak Sekolah, Karena Tak Ada Uang

Berdasarkan pemantauan pada Jumat (27/8/2021), dia memegang celurit di tangan kanan untuk membersihkan area pemakaman.

Dia membersihkan satu per satu makam menggunakan kedua tangan yang terlihat sudah mulai berkerut dan kering.

Dia menggerakkan tangan kanan untuk membersihkan area pemakaman tersebut.

Setiap pagi, dia selalu menunggu di rumah.

Dia, menunggu apakah akan ada orang yang akan dimakamkan lagi?

"Saya kalau pagi-pagi makan bubur, kalau sore nganggur atau tidak makan. Sulit untuk saya mendapatkan makan. Saya pasrah saja sama Tuhan," katanya dengan nada sedikit bergetar di TPU Talaga Paheut.

Di usia senja, dia tidak pernah berputus asa untuk memperoleh kehidupan yang jauh lebih baik.

Dia selalu memegang teguh pada keyakinan, bahwa jika sang maha kuasa memberikan rejeki, maka dirinya akan mendapatkan makan.

Namun, apabila sang maha kuasa tak memberikan rejeki, maka dirinya harus menahan diri untuk mendapatkan makanan.

"Penghasilan saya ini tidak ada. Paling setahun sekali itu juga harus menunggu Idul Fitri. Itu juga saya mendapatkan Rp 500.000 per tahun," jelasnya.

Meskipun begitu, dia terus berupaya mengebulkan dapurnya.

Bahkan, dia juga harus menampung hidup seorang cucu yang hidup dalam kesulitan. Apalagi, kini cucunya itu sudah mempunyai anak.

Baca juga: Cerita Korban Insiden Margo City: Merangkak di Antara Puing dan Sempat Ingin Melompat dari Lantai 2

Baca juga: Bangun Jam 2 Pagi Hingga Menahan Tangis, Cerita Siswi Asal Serang Kibarkan Bendera di Istana Negara

Sutarman terpaksa harus bertarung dengan getirnya kehidupan yang saat ini semakin memperparah dirinya.

Dia tinggal di rumah reot beralaskan bambu dan triplek yang berada persis di samping kuburan.

Bangunan rumah bukan milik sendiri, melainkan bantuan dari masyarakat sekitar yang diberikan secara sukarela kepada dirinya.

"Ya rumah ini bekas pemberian dari orang juga dibangunnya. Jadi kalau ada yang mau ngasih ya di perbaiki kadang juga, seperti ngasih bambu atau triplek buat diperbaiki," katanya.

Sumber: Tribun Banten
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved