Virus Corona di Banten
Cerita Perajin Dompet di Kota Serang Bertahan, Beralih Produksi untuk Pertahankan 50 Karyawannya
Produksi dan jualan dompetnya setop dulu karena permintaan berkurang, stok masih banyak
Penulis: desi purnamasari | Editor: Agung Yulianto Wibowo
Laporan Wartawan TribunBanten.com, Desi Purnamasari
TRIBUNBANTEN.COM, SERANG - Begitu pesanan dompet berkurang pada awal pandemi Covid-19, Imas Masitoh langsung beralih memproduksi masker.
Dalam satu hari, perempuan berusia 40 tahun ini memproduksi 500-1.000 masker.
Dia mengirimkan masker itu ke Jakarta, Cikarang, dan Bekasi.
Selain itu, warga Kampung Bojot, Desa Pancalaksana, Kecamatan Curug, Kota Serang, ini juga menjual masker secara daring.
Baca juga: Cerita Abah Jamhari Perajin Asal Kota Cilegon, Puasa 7 Hari Sebelum Membuat Golok Sepanjang 4 Meter
"Produksi dan jualan dompetnya setop dulu karena permintaan berkurang, stok masih banyak," katanya di rumahnya, Sabtu (9/10/2021).
Imas mengaku harus beralih memproduksi yang lain agar tidak merumahkan 50 karyawan yang berasal dari masyarakat sekitar.
"Kebetulan pas awal pandemi itu 2020 banyak yang minta dibuatin masker, jadi kita beralih ke produksi masker," ucap pemilik rambut panjang ini.
Sekarang, Imas hanyab memproduksi masker hanya jika ada pesanan.
"Kalau tidak ada pesanan, barang suka menumpuk di gudang," katanya.
Baca juga: Jeritan Perajin Tahu Tempe, Kurangi Pegawai hingga Terancam Gulung Tikar Akibat Harga Kedelai Naik
Imas pun sudah mulai memproduksi tas dan dompet seperti pada awalnya.
Namun, dia mengaku pesanan belum sebanyak pada saat sebelum pandemi Covid-19.
"Kami kurangi produksi, kalau dulu biasa seminggu 1.000 unit, sekarang hanya 500," ujarnya.
Adapun harga tas dan dompet produksinya mulai Rp 5.000 sampai Rp 50.000.
Dia mengaku omzetnya jauh berkurang dibandingkan sebelum pandemi Covid-19.
Kini, rata-rata Imas hanya bisa memperoleh omzet Rp 10 juta dalam satu minggu.