Breaking News:

Kepala Desa Sodong Pandeglang dan Anaknya Kompak Korupsi Dana Desa Rp 418 Juta

Kepala desa di Pandeglang bersama anaknya ditangkap Satreskrim Polres Pandeglang karena lakukan korupsi dana desa tahun anggaran 2019.

Editor: Yudhi Maulana A
Dok. Humas Polda Banten
SJ (54) Kepala Desa (Kades) Sodong, dan anaknya YP (29) Kaur Keuangan atau Operator Desa Sodong diamankan Satreskrim Polres Pandeglang Polda Banten Karena Korupsi pada program Dana Desa (DD) TA. 2019. 

TRIBUNBANTEN.COM - Kepala desa (Kades) di Pandeglang bersama anaknya ditangkap Satreskrim Polres Pandeglang karena lakukan korupsi dana desa tahun anggaran 2019.

Penangkapan Kades Sodong berinisial SJ (54) beserta anaknya, YP (29) yang bekerja sebagai Kaur Keurangan Desa Sodong terungkap saat berawal saat keduanya diduga melakukan korupsi dana desa sejak 22 April 2020 lalu untuk pembangunan gedung desa.

Nilai uang yang dikorupsi pun tak main-main, yakni sekitar 418 juta rupiah.

Kabid Humas Polda Banten AKBP Shinto Silitonga didampingi  Kapolres Pandeglang AKBP Belny Warlansyah saat menggelar konferensi pers di Polres Pandeglang, Rabu (27/10/2021) menjelaskan awalnya Desa Sodong Kecamatan Saketi menerima Dana Desa (DD) dari APBN Melalui APBD kabupaten  Pandeglang Tahun Anggaran 2019 sebesar Rp. 772.834.000.

Dana tersebut digunakan untuk pembangunan gedung desa.

YP (29) Kaur Keuangan atau Operator Desa Sodong melakukan pengajuan proposal pengajuan dana tersebut.

“Dana sesuai proposal pengajuan Dana Desa (DD) TA. 2019 yang digunakan atau Realisasi pengajuan dana desa  hanya sebesar Rp. 354.413.135,57, untuk sisanya tidak digunakan sesuai Proposal dan Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Desa TA. 2019 sebesar Rp. 418.134.664,43,-" kata Shinto Silitonga dalam siaran pers yang diterima TribunBanten.com.

Baca juga: Kasus Korupsi Pengadaan Tanah SMKN 7 Tangsel, KPK Selisik Kepemilikan dan Nilai Harga Tanah

Shinto Silitonga menyampaikan uang negara untuk pembangunan desa tersebut digunakan untuk kepentingan pribadi.

"Uang dari hasil Korupsi sebesar Rp. 418.134.664,43,- pelaku mengatakan digunakan untuk Keperluan di desa yang bukan peruntukannya dan untuk kepentingan pribadi tersangka," imbuh Shinto Silitonga.

Shinto menyatakan modus operandi kejahatan tindak pidana korupsi dilakukan dengan cara melakukan pembangunan fisik tidak sesuai dengan spesifikasinya, hal ini sesuai dengan keterangan ahli audit bangunan dari akademisi.

Halaman
12
Sumber: Tribun Banten
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved