Internasional

Puluhan Warga Sipil di Myanmar Diduga Dibunuh, Begini Keterangan Saksi dan Kronologinya

Kasus pembunuhan massal terjadi di Myanmar hingga menyebabkan 40 orang dikabarkan telah tewas.

Penulis: Zuhirna Wulan Dilla | Editor: Zuhirna Wulan Dilla
Tangkapan layar liputan BBC.
Penemuan mayat korban pembunuhan massal Militer Myanmar. Sebanyak 40 warga sipil tewas setelah disiksa oleh Militer Myanmar. 

Laporan Wartawan TribunBanten.com, Zuhirna Wulan Dilla

TRIBUNBANTEN.COM - Kasus pembunuhan massal terjadi di Myanmar hingga menyebabkan 40 orang dikabarkan telah tewas.

Dihimpun dari Tribunnews dari BBC, berdasarkan informasi dari saksi mata menyebut kalau ada tentara yang awalnya mengumpulkan warga desa.

Kemudian mereka memisahkan laki-laki sampai akhirnya dibunuh begitu saja.

Para korban juga diantaranya berusia sekitar 17 tahun.

Insiden itu pun sempat viral dari video yang beredar.

Dalam video itu para korban disika dulu lalu dibunuh di lubang yang dangkal.

Baca juga: Di Depan Panglima Militer Myanmar, Jokowi Tegas Minta Hentikan Kekerasan ke Warga Sipil

Kejadian itu tepatnya terjadi pada Juli 2021, di kota kecil bernama Kani, daerah Myanmar Tengah.

Dugaan pembunuhan itu katanya merupakan hukuman kolektif atas serangan dari kelompok milisi terkait tuntutan demokrasi.

Penemuan mayat korban pembunuhan massal Militer Myanmar. Sebanyak 40 warga sipil tewas setelah disiksa oleh Militer Myanmar.
Penemuan mayat korban pembunuhan massal Militer Myanmar. Sebanyak 40 warga sipil tewas setelah disiksa oleh Militer Myanmar. (Tangkapan layar liputan BBC.)

Di mana tuntutan itu telah disuarakan setelah kudeta militer pada Februari.

Lalu seorang juru bicara pemerintah militer pun tak menyangkal adanya tuduhan tersebut.

Ia menjelaskan kalau militer telah menghadapi perlawanan dari warga sipil sejak menguasai negara yang disebut Burma.

Burman disebut menggulingkan pemerintah yang dipilih secara demokratis yang dipimpin oleh Aung San Suu Kyi.

Akhirnya BBC berhasil meminta keterangan dari 11 saksi di Kani.

Baca juga: Viral Biarawati Berlutut di Depan Polisi Myanmar Minta Tak Menyerang Anak-Anak: Tembak Saya Saja

Lalu dibandingkan keterangan mereka dengan rekaman ponsel yang dikumpulkan oleh Myanmar Witness.

Myanmar Witness merupakan LSM yang berbasis di Inggris dengan fokus menyelidiki pelanggaran hak asasi manusia di negara tersebut.

Para saksi yang tidak disebutkan namanya itu menyebut ada 14 pria yang disiksa.

Mereka dipukuli hingga tewas.

Lalu jasad mereka dibuang ke selokan berhutan.

"Kami tidak tahan untuk menontonnya sehingga kami menundukkan kepala, menangis," ujar seorang saksi wanita.

Wanita itu pun mengtakan kalau saudara lakiki hingga keponaknnya telah terbunuh.

"Kami memohon mereka untuk tidak melakukannya. Mereka tidak peduli. Mereka bertanya kepada para wanita, 'Apakah suami Anda termasuk di antara mereka? Jika ya, lakukan ritual terakhir Anda'," jelasnya.

Setelah itu seorang pria yang hampir tewas tapi berhasil melarikan diri menjelaskan kalau tentara itu melakukan pelecehan selama berjam-jam sebelum korban tewas.

"Mereka diikat, dipukuli dengan batu dan popor senapan dan disiksa sepanjang hari,"

"Beberapa tentara tampak muda, mungkin 17 atau 18 tahun, tetapi beberapa benar-benar tua. Ada juga seorang wanita bersama mereka," bebernya.

Baca juga: SOSOK dan Profil Jenderal yang Memimpin Kudeta di Myanmar, Dikenal Otak Pembantaian Etnis Rohingya

Lalu pada Juli dikabarkan juga ada 12 mayat yang dimutilasi.

Mereka ditemukan di kuburan massal yang dangkal.

Di mana ada potongan tubuh kecil, seorang anak dan orang penyandang disabilitas.

Bahkan ada mayat seorang pria berusia sekita rnam puluhan terikat di pohon plum.

Sedangkan keluarga yang terdiri dari putra dan cucunya itu sudah melarikan diri.

Pembunuhan itu merupakan serangan terhadap militer oleh kelompok-kelompok milisi sipil di daerah tersebut.

Jelas dari bukti visual dan kesaksian yang dikumpulkan oleh BBC bahwa laki-laki secara khusus menjadi sasaran, sesuai dengan pola yang diamati di seluruh Myanmar dalam beberapa bulan terakhir, penduduk desa laki-laki menghadapi hukuman kolektif atas bentrokan antara Pasukan Pertahanan Rakyat dan militer.

Baca juga: Selain Ampun Bang Jago, Ternyata Rakyat Myanmar Menggandrungi Lagu-lagu Indonesia, Ini Buktinya

Keluarga mereka yang terbunuh bersikeras bahwa orang-orang itu tidak terlibat dalam serangan terhadap militer.

Ada seorang wanita lainnya yang mengatakan kalau ia memohon kepada tentara terkait saudara laki-lakinya.

"Jangan katakan apa-apa. Kami lelah. Kami akan membunuhmu," kata wanita itu menirukan suara tentara.

Disclaimer:

Wartawan asing telah dilarang meliput di Myanmar sejak kudeta, dan sebagian besar media non-pemerintah telah ditutup, membuat pelaporan di lapangan menjadi mustahil.

BBC menyampaikan tuduhan yang diangkat dalam cerita ini kepada Wakil Menteri Informasi dan juru bicara militer Myanmar, Jenderal Zaw Min Tun.

Di mana mereka tidak menyangkal adanya pembunuhan massal itu.

massal.

"Itu bisa terjadi," katanya.

"Ketika mereka memperlakukan kami sebagai musuh, kami memiliki hak untuk membela diri."

Kini, PBB sedang menyelidiki dugaan pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan oleh militer Myanmar.

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Pembunuhan Massal oleh Militer Myanmar Terungkap, 40 Warga Sipil Disiksa sampai Meninggal

Sumber: Tribun Banten
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved