Pelayanan Prima kepada 82 Juta Pelanggan, PLN Pastikan Digital Rantai Pasok Kelistrikan Kian Optimal

Dia datang untuk memastikan sistem digitalisasi rantai pasok material kelistrikan berjalan optimal di lapangan.

dokumentasi PLN
Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo mendatangi Gudang Unit Layanan Pelanggan (ULP) Cikarang Kota dan Gedung Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Bekasi, Kamis (7/4/2022). 

TRIBUNBANTEN.COM - Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo mendatangi Gudang Unit Layanan Pelanggan (ULP) Cikarang Kota dan Gedung Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Bekasi, Kamis (7/4/2022).

Dia datang untuk memastikan sistem digitalisasi rantai pasok material kelistrikan berjalan optimal di lapangan.

Sistem ini disempurnakan PLN demi meningkatkan kecepatan dan ketepatan layanan kepada pelanggan.

Darmawan mengaku kedatangannya bukan ingin sidak, tetapi kangen-kangenan dengan tim di unit.

Baca juga: Siaga Ramadan: 47.090 Personel PLN di 1.500 Posko, Piket 24 Jam Jaga Keandalan Pasokan Listrik

"Sekaligus bagaimana upaya kita bisa meningkatkan pelayanan dan memperbaiki proses bisnisnya. Dari yang kami lihat, memang butuh perbaikan untuk tata kelola rantai pasok material kelistrikan ini," katanya.

Menurut dia, perbaikan itu dari tata kelola dan pembangunan sistem informasi manajemen.

Digitalisasi rantai pasok material kelistrikan sangat penting bagi PLN.

Apalagi jumlah material yang dikelola di gudang-gudang PLN sangat banyak dan bervariasi sehingga mustahil bisa dilakukan pengelolaan dengan baik jika dilakukan secara manual.

Baca juga: Kesuksesan Transisi Energi PLN Berada di Pundak Pegawai Milenial, Didukung Penuh Menteri BUMN

PLN memiliki tanggung jawab besar untuk memberikan pelayanan prima kepada lebih dari 82 juta pelanggan.

"Diperlukan sistem informasi rantai pasok material kelistrikan yang terpadu agar setiap permintaan pelanggan, mulai dari keluhan, penyambungan baru, hingga tambah daya dapat dilayani dengan cepat," ucap Darmawan.

Dalam kunjungan tersebut, dia menemukan ketersediaan material sudah memadai dan sistem digital telah diterapkan masih perlu perbaikan di berbagai aspek.

Pergerakan material mulai dari diterima unit induk dari pabrikan, didistribusikan ke UP3, ULP, hingga ke petugas di lapangan telah menggunakan aplikasi Gudang Online dan SAP.

Darmawan menilai perlu ada perbaikan dari sisi material Fast Moving karena ditemukan adanya disparitas antara jumlah stok yang ada di aplikasi dengan jumlah stok real di dalam gudang.

Hal ini berdampak pada tidak akuratnya perencanaan pengadaan material.

Sebagai contoh stok kWh meter untuk penyambungan baru pelanggan atau Miniatur Circuit Breaker (MCB) yang dibutuhkan untuk penambahan daya.

Halaman
12
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved