Kisah Pemudik di Pelabuhan Merak: 'Nikmati' Jalan Meski Terjebak Macet
Pelabuhan Merak di Cilegon ramai dipadati penumpang menjelang Hari Raya Idul Fitri 1443 Hijriah/2022 Masehi.
Pasalnya selama dua kali lebaran sebelumnya, ia tak bisa mudik lantaran anjuran dari pemerintah untuk menghindari mudik guna mencegah penyebaran Covid-19.
“Dulu setiap tahun mudik. Jadi senang sekali tahun ini bisa mudik lagi,” tambah Ikhsan.
Jika Ikhsan Koto memilih berjalan-jalan di sekitar mobil dan bercengkerama dengan pemudik lain, Rere, seorang pegawai swasta memilih nongkrong di kafe yang hanya berjarak 20 meter dari posisi kendaraannya.
“Sambil buka puasa di sini. Disyukuri saja, mungkin kalau tidak ada antrian kita buka puasanya di kapal,” kata wanita asal Solok, Sumatera Barat.
Baca juga: Pemudik Mulai Berdatangan di Stasiun Rangkasbitung Lebak, Saepul Mudik Bersama Keluarga
Rere juga mengaku tak masalah harus antri memasuki kapal Ferry.
“Ya memang harus antri, kapal kan adanya setiap jam dan mobil masuknya satu-satu,” ujarnya.
Sementara itu Ahmad Ridoan Nasution, sopir bus Raflesia trayek Yogya-Bengkulu memilih duduk bercengkrama dengan kru bus lainnya.
Mereka duduk-duduk di halaman rumput, persis di sebelah antrian bus di dermaga eksekutif.
Bus yang disopirinya penuh dengan penumpang berjumlah 36 orang.
“Kita dan penumpang nyaman-nyaman saja karena sedari awal sudah tahu bakal antri di Pelabuhan Merak,” kata Ahmad Ridoan Nasution yang mengaku nama panggilannya Ucok Giham.
Ucok Giham, 49 tahun, mengaku tak masalah asal antrian diperlakukan adil dan tak ada saling serobot memasuki kapal.
“Sejauh ini pengaturannya bagus. Sopir juga tak saling serobot,” kata pria asal Mandailing Natal tetapi sudah lama merantau ke Bengkulu.
Aga rlebih lancar, Ucok menyarankan truk dilarang menggunakan dermaga eksekutif selama arus mudik.
Menurutnya dermaga eksekutif sebaiknya hanya untuk kendaraan pribadi dan bus.
Ia pun menunjuk antrian truk-truk di dermaga eksekutif.
Baca juga: Demi Kemanan Mudik, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Siapkan Satgas Rawan Begal di Sumatra
“Harusnya dilarang, truk pergunakan saja dermaga regular. Jadi tidak penumpukan di dermaga eksekutif,” ujar Ucok.
“Kalau mengenai antrian tak masalah. Seninya mudik ya begini, ada antrian. Kalau tidak ada antri, tidak ada mudik namanya,” tutur Ucok sambil melempar tawa.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banten/foto/bank/originals/foto-ilustrasi-pemudik-di-pelabuhan-merak.jpg)