Naskah Kuno Banten Tersebar Sampai Filipina, Guru Besar UIN: Bukti Kesultanan Islam Berpengaruh

Tingkatkan kecintaan generasi muda pada warisan leluhur, Museum Negeri Banten gelar seminar Manuskrip kuno Banten.

Tayang:
Penulis: mildaniati | Editor: Ahmad Haris
TribunBanten.com/Mildaniati
Seminar manuskrip Banten yang dilaksanakan di museum negeri Banten, Rabu (10/8/2022) naskah manuskrim Banten tersebar hingga ke Filipina 

Laporan Wartawan TribunBanten.com, Mildaniati

TRIBUNBANTEN, KOTA SERANG - Tingkatkan kecintaan generasi muda pada warisan leluhur, Museum Negeri Banten menggelar seminar Manuskrip kuno Banten.

Seminar Sejarah Banten itu mengusung tema "Menelusuri manuskrip masa Kesultanan Banten untuk peradaban masyarakat Banten hari ini dan esok". Kegiatan itu digelar pada Rabu (10/8/2022)

Manuskrip atau naskah adalah tulisan tangan yang ditulis oleh orang terdahulu.

Baca juga: Artefak Peninggalan Abad ke-17 Milik Kesultanan Banten Ditemukan di Bekasi

Aksara yang digunakan dalam penulisan manuskrip yaitu aksara pegon, dan bahasa arab.

Kegiatan itu menghadirkan pembicara dari UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Eva Syarifah Wardah dan Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Oman Faturohman.

Dalam pemaparan materinya, Eva menjelaskan, manuskrip memiliki potensi unuk dijadikan sumber sejarah.

Kata Eva, manuskrip selama ini hanya dianggap sebagai karya fiktif karena mengandung dongeng dan legenda, tetapi di beberapa data manuskrip tentang Banten telah banyak dibuktikan kebenarannya oleh para filolog, sehingga dapat ditemukan fakta sejarah yang dapat dibuktikan.

Manuskrip yang mengandung fakta sejarah dapat dijadikan sebagai sumber sejarah.

Dia mengambil sampel disertasinya, tentang Wawacan Hadji Mangsur sebagai sumber potensial bagi rekonstruksi sejarah Banten.

Manuskrip yang dijadikan sumber dalam disertasinya itu, menjelaskan terkait Belanda mengadu domba sultan haji (anak sultan Ageng Tirtayasa) dari kesultanan Banten.

"Penghianatan dimulai dengan perjanjian politik sepihak yang dirancang oleh Sultan Haji dengan Belanda," ujarnya saat menyampaikan materi di depan para peserta, Rabu.

Manuskrip biasanya ditulis oleh juru tulis masa kesultanan.

Meski demikian, untuk melengkapi fakta sejarah, tidak hanya diperlukan manuskrip sebagai sumber sejarah, melainkan diperlukan pula cabang ilmu lainnya untuk memastikan itu.

"Butuh cabang ilmu bantu untuk menelusuri fakta sejarah," katanya.

Sumber: Tribun Banten
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved