Duh, Emak-emak Asik Main Medsos, Rentan Jadi Sasaran Kekerasan dan Propaganda

Emak-emak dan anak perempuan bermain media sosial rentan menjadi korban kekerasan dan propaganda radikal terorisme.

Editor: Glery Lazuardi
TribunBanten.com/Ahmad Tajudin
Ilustrasi emak-emak. Emak-emak dan anak perempuan bermain media sosial rentan menjadi korban kekerasan dan propaganda radikal terorisme. 

14 Perempuan Terlibat Jaringan Teror

Salah satu perempuan yang terlibat kasus terorisme, yaitu Zakiah Aini yang menyerang Mabes Polri pada 3 Maret 2021.

Sementara itu, kasus lainnya yang melibatkan seorang ibu dan dua anak dalam aksi teror di Gereja Kristen Indonesia (GKI) Diponegoro pada Mei 2018.

"Ada sejumlah perempuan yang terlibat dalam kasus terorisme. Dalam catatan kami kurang lebih ada sekitar 14," kata Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Boy Rafli.

Pihaknya menemukan beberapa kasus keterlibatan perempuan dan anak dalam aksi terorisme. Sejauh ini terdapat belasan perempuan yang terbilang kasus tindakan terorisme.

Jika melihat perspektif global yang berkembang, kata dia, perempuan dan anak yang terlibat aksi teror merupakan korban dari ideologi terorisme.

Baca juga: Kampung Mualaf Baduy Dapat Bantuan dari Eks Napi Teroris, Jaringannya Ada di Pandeglang dan Bandung

Dia menjelaskan, pada hari ini melalui United Nation (NT) masih melihat perempuan dan anak sebagai korban, walaupun sudah direkrut oleh kelompok terorisme.

"Secara fakta memang jadi pelaku, tapi sesungguhnya perempuan dan anak adalah korban yang dilakukan oleh kaum pria dalam proses radikalisasi yang dijalankan kelompok terorisme," kata mantan Kadiv Humas Polri itu.

Boy melihat perempuan dan anak merupakan kelompok yang terbilang rentan terpapar ideologi radikal terorisme.

Oleh karena itu, kata dia, diperlukan langkah pencegahan sejak dini dari lingkungan terkecil perlu dilakukan untuk membendung narasi ideologi terorisme.

Salah satu bentuk pencegahan tersebut dapat dimulai dari level desa, termasuk dengan menghadirkan program kolaborasi lintas lembaga terkait pemberdayaan perempuan dan anak yang mendukung upaya pencegahan terorisme.

Menteri PPA melihat keterlibatan perempuan dan anak dalam also terorisme ini dipicu kerentanan kelompok tersebut untuk terpapar ideologi teror, sehingga kemudian mereka menjadi pelaku sekaligus korban.

"Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan perempuan rentan dilibatkan dalam aksi terorisme. Seperti kita ketahui bersama, itu adalah budaya patriarki, ekonomi maupun akses informasi," kata Bintang Puspayoga.

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved