Hadapi Ancaman Pasar Bebas, Budaya dan Kerajinan Lokal Perlu Dilestarikan

Pendiri dan CEO Lovise, Ditta Megatari Matin, mengatakan upaya pelestarian budaya dan kerajinan lokal harus dilakukan di tengah ancaman pasar bebas

Tayang:
Editor: Glery Lazuardi
Istimewa
Pendiri dan CEO Lovise, Ditta Megatari Matin, mengatakan upaya pelestarian budaya dan kerajinan lokal harus dilakukan di tengah ancaman pasar bebas. 

TRIBUNBANTEN.COM - Pendiri dan CEO Lovise, Ditta Megatari Matin, mengatakan upaya pelestarian budaya dan kerajinan lokal harus dilakukan di tengah ancaman pasar bebas.

"Kami ingin mengangkat karya-karya lokal Indonesia," ujarnya dalam keterangannya pada Selasa (12/9/2023)

Baca juga: Pameran UMKM Jateng di Banjarmasin, Atikoh: Kolaborasi Antar Daerah Pacu Produk Lokal Berkembang

Dia berkomitmen memberikan dampak positif bagi para perajin lokal dan mewarisi kekayaan budaya Nusantara.

Fokus utama adalah menghidupkan karya-karya anak bangsa dan membawa pengalaman nyaman rumah tangga lebih dekat kepada masyarakat.

"Kami ingin menjadikan kebanggaan ini hadir dalam rumah-rumah masyarakat," ujarnya.

Lovise bukan sekadar merk, tetapi sebuah misi untuk menciptakan ruang ideal yang menghadirkan kenyamanan.

Selain menonjolkan desain dan kualitas sofa, Lovise mengambil peran aktif dalam pelestarian budaya lokal.

Lovise mendorong melestarikan kekayaan identitas Indonesia melalui setiap produk yang dihasilkan.

Nama-nama koleksi seperti Mahalona, Flores, Cendrawasih, Rinjani, dan Toba, merupakan cerminan rasa hormat Lovise terhadap ragam budaya.

"Setiap produk yang kami ciptakan adalah bagian kisah panjang keindahan budaya Indonesia," tambahnya.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved