Profil dan Sejarah Taman Nasional Ujung Kulon di Banten yang Ditetapkan Sebagai Geopark Nasional

Berikut ini adalah profil Taman Nasional Ujung Kulon ditetapkan menjadi Geopark Nasional

|
Editor: Ahmad Haris
Kolase TribunBanten.com/Instagram
Kolase foto badak dan pantai di Pulau Peucang, yang juga berada di area Taman Nasional Ujung Kulon, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten. 

TRIBUNBANTEN.COM - Simak profil Taman Nasional Ujung Kulon ditetapkan menjadi Geopark Nasional.

Penetapan itu tertuang dalam Surat Keputusan (SK) Menteri ESDM RI Nomor: 393.K/GL.01/MEM.G/2023 tentang Penetapan Taman Bumi (Geopark) Nasional Ujung Kulon pada 10 November 2023.

Geopark Ujung Kulon telah memenuhi syarat administratif dan teknis untuk ditetapkan sebagai taman bumi.

Baca juga: Ditanya soal Geopark Bayah Dome, Bupati Iti: Menunggu Penetapan

Kawasan Geopark Ujung Kulon memiliki warisan geologi yang terkait dengan keragaman hayati (biodiversity) dan keanekaragaman budaya atau cultural diversity.

“Pengembangan kawasan geopark menitik beratkan kepada terlaksananya fungsi konservasi, edukasi dan ekonomi berkelanjutan,” kata Plt Kepala Dinas ESDM Provinsi Banten Deri Dariawan.

Di mana dalam melaksanakan pengelolaan Geopark ini, pengelola menyusun dan menyampaikan laporan secara berkala dua tahun sekali kepada Menteri ESDM melalui Kepala Badan Geologi.

“Nanti setelah dua tahun, akan dilakukan evaluasi untuk kemudian bisa ajukan menjadi geopark dunia dengan mengusulkannya melalui UNESCO Global Geoparks (UGG),” ujar Deri.

Profil Ujung Kulon

Taman Nasional Ujung Kulon terletak di Semenanjung Ujung Kulon, bagian paling barat di Pulau Jawa, Indonesia.

Kawasan taman nasional ini pada mulanya meliputi wilayah Krakatau dan beberapa pulau kecil di sekitarnya seperti Pulau Handeuleum dan Pulau Peucang dan Pulau Panaitan.

Baca juga: Rekomendasi Wisata Keren dan Super Indah di Banten: Pulau Peucang, View Pantainya Juara!

Kolase foto wisatawan menikmati keindahan Pulau Peucang.
Kolase foto wisatawan menikmati keindahan Pulau Peucang. (Kolase TribunBanten.com/Instagram)

Kawasan taman nasional ini mempunyai luas sekitar 122.956 Ha; (443 km⊃2; di antaranya adalah laut), yang dimulai dari tanah genting Semenanjung Ujung Kulon sampai dengan Samudra Hindia.

Ujung Kulon merupakan taman nasional tertua di Indonesia yang sudah diresmikan sebagai salah satu Warisan Dunia yang dilindungi oleh UNESCO pada tahun 1991, karena wilayahnya mencakupi hutan lindung yang sangat luas.

Sampai saat ini kurang lebih 50 sampai dengan 60 badak hidup di habitat ini.

Pada awalnya Ujung Kulon adalah daerah pertanian pada beberapa masa sampai akhirnya hancur lebur dan habis seluruh penduduknya ketika Gunung Krakatau meletus pada tanggal 27 Agustus 1883 yang akhirnya mengubahnya kawasan ini kembali menjadi hutan.

Tiket masuk ke Taman Nasional ini dapat diperoleh di kantor Balai Taman Nasional di Labuan atau di pos Tamanjaya.

Fasilitas penginapan terdapat di desa Tamanjaya, Pulau Handeuleum dan Pulau Peucang.

Untuk meningkatkan kemampuan pengelolaan Taman Nasional Ujung Kulon sebagai Situs Warisan Alam Dunia, UNESCO telah memberikan dukungan pendanaan dan bantuan teknis.

Kawasan Ujung Kulon pertama kali dijelajahi oleh seorang ahli botani Jerman, F. Junghuhn, pada tahun 1846, untuk keperluan mengumpulkan tumbuhan tropis.

Pada masa itu kekayaan flora dan fauna Ujung Kulon sudah mulai dikenal oleh para peneliti.

Bahkan perjalanan ke Ujung Kulon ini sempat masuk di dalam jurnal ilmiah beberapa tahun kemudian.

Tidak banyak catatan mengenai Ujung Kulon sampai meletusnya Gunung Krakatau pada tahun 1883.

Namun kemudian kedahsyatan letusan Krakatau yang menghasilkan gelombang tsunami setinggi kurang lebih 15 meter, telah memporak-porandakan tidak hanya pemukiman penduduk di Ujung Kulon, tetapi juga menimpa satwa liar dan vegetasi yang ada.

Meskipun letusan Krakatau telah menyapu bersih kawasan Ujung Kulon, akan tetapi beberapa tahun kemudian diketahui bahwa ekosistem-vegetasi dan satwaliar di Ujung Kulon tumbuh baik dengan cepat.

Perkembangannya kemudian, beberapa areal berhutan ditetapkan sebagai kawasan yang dilindungi, secara berurutan.

Flora di Taman Nasional Ujung Kulon membentuk berbagai formasi hutan, di mana formasi hutan ini dicirikan adanya dominasi oleh jenis/spesies tertentu.

Ditinjau dari tipe hutan, flora di kawasan ini terdiri dari hutan pantai, hutan hujan tropika dataran rendah, hutan hujan tropika pegunungan, hutan rawa air tawar, hutan mangrove dan padang rumput.

Formasi hutan yang cukup lengkap ini mengandung keragaman plasma nutfah serta spesies tumbuhan berguna dan langka yang sangat tinggi.

Beberapa jenis tumbuhan diketahui langka dan di pulau jawa hanya terdapat di TN Ujung Kulon antara lain: Batryohora geniculata, Cleidion spiciflorum, Heritiera percoriacea, dan Knema globularia.

Banyak pula berbagai jenis tumbuhan yang telah dimanfaatkan masyarakat baik untuk kayu pertukangan, obat­-obatan, tanaman hias maupun pangan. Jenis-jenis yang telah dimanfaatkan tersebut antara lain bayur (Pterospemum javanicum) dan berbagai rotan (Calamus sp.) sebagai bahan pertukangan; kayu gaharu (Aquilaria malaccensis), Kayu cempaka (Michelia campaca) dan kayu jambe (Areca catechu) sebagai bahan obat-obatan; Anggrek (Dendrobium sp.) sebagai tanaman hias; tangkil (Gnetum gnemon) dan salak (Salacca edulis) sebagai bahan pangan.

Hutan pantai umumnya dicirikan oleh adanya jenis-jenis nyamplung (Calophyllum innophyllum), butun (Barringtonia asiatica), Klampis Cina (Hemandia peltata), ketapang (Terminalia catappa), cingkil (Pongamia pinnata) dan lain-lain.

Formasi hutan pantai ini umumnya dikenal sebagai formasi barringtonia, dengan spesies yang kurang beranekaragam dan nyamplung merupakan jenis yang lebih khas tipenya.

Formasi ini terdapat sepanjang pantai Barat dan Timur Laut Semenanjung Ujung Kulon, Pulau Peucang, sepanjang pantai Utara dan teluk Kasuaris Pulau Panaitan.

Umumnya formasi ini hidup di atas pasir karang dalam jalur sempit memanjang sepanjang pantai dengan lebar 5 sampai 15 meter.

Taman Nasional Ujung Kulon memiliki beragam jenis satwa liar baik bersifat endemik maupun penting untuk dilindungi.

Secara umum kawasan ini masih mampu menampung perkembangbiakan berbagai populasi satwa liar.

Di dalam Taman Nasional Ujung Kulon terdapat salah satu spesies langka di dunia, yaitu badak jawa yang bercula satu.

Selain badak jawa (Rhinoceros sondaicus), terdapat pula spesies yang dilindungi seperti Owa Jawa (Hylobates moloch), Surili (Presbytis aigula) dan Anjing hutan (Cuon alpinus javanicus).

Taman Nasional Ujung Kulon telah menjadi satu-satunya habitat dari badak jawa.

Populasinya diperkirakan ada 50-80 ekor.

Pengelola Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) mencatat jumlah Badak Jawa di Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) Kabupaten Pandeglang Banten bertambah menjadi 81 ekor. Jumlah Badak Jawa di TNUK bertambah setelah seekor induk Badak Jawa melahirkan anak berjenis kelamin betina.
Pengelola Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) mencatat jumlah Badak Jawa di Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) Kabupaten Pandeglang Banten bertambah menjadi 81 ekor. Jumlah Badak Jawa di TNUK bertambah setelah seekor induk Badak Jawa melahirkan anak berjenis kelamin betina. (Dok. Balai TNUK)

Taman Nasional Ujung Kulon juga menjadi satu-satunya tempat di dunia bagi perkembangbiakan badak jawa secara alami.

Di taman nasional ini diperkirakan ada sekitar 30 jenis mamalia, yang terdiri dari mamalia ungulata seperti Badak, Banteng, Rusa, Kijang, Kancil, dan Babi Hutan, mamalia predator seperti Macan Tutul, Anjing hutan, Macan Dahan, Luwak dan Kucing hutan, mamalia kecil seperti walang kopo, tando, landak, bajing tanah, kalong, binturung, berang-berang, tikus, trenggiling dan jelarang. Di antaraPrimata terdapat dua jenis endemik, yaitu Owa dan Surili.

Sedang jenis Primata lain adalah Lutung (Presbytis cristata), Kukang (Nycticebus coucang) dan Monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) mempunyai populasi yang cukup baik dan tersebar di sebagian kawasan.

Banteng Jawa (Bos javanicus) liar mencari makan di ladang pengembalaan, kawasan Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK), Pandeglang, Banten. Banteng jawa merupakan salah satu dari tiga satwa mamalia yang dilindungi secara prioritas keberadaannya di kawasan tersebut selain Badak Jawa dan Owa Jawa.

Banteng Jawa (Bos javanicus) liar mencari makan di ladang pengembalaan, kawasan Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK), Pandeglang, Banten. Banteng jawa merupakan salah satu dari tiga satwa mamalia yang dilindungi secara prioritas keberadaannya di kawasan tersebut selain Badak Jawa dan Owa Jawa.

Banteng (Bos javanicus) merupakan binatang berkuku terbesar dan terbanyak jumlah populasinya (± 500 ekor).

Satwa ini hanya terdapat di Semenanjung Ujung Kulon dan Gunung Honje, serta tidak dijumpai di Pulau Panaitan.

Rusa (Cervus timorensis) di Semenanjung Ujung Kulon dan Gunung Honje terdapat dalam jumlah dan penyebaran yang sangat terbatas,dan di Pulau Peucang tedapat dalam jumlah yang sangat banyak, dan di Pulau Panaitan menunjukan perkembangan yang semakin banyak.

Babi hutan (Sus scrofa), muncak (Muntiacus muntjak) dan pelanduk (Tragulus javanicus) relatif umum terdapat di seluruh kawasan, tetapi celeng (Sus verrucosus) hanya di jumpai di Semenanjung Ujung Kulon dan Gunung Honje.

Jumlah Fauna

Terdapat 35 jenis mamalia

Terdapat 5 jenis Primata

Terdapat 240 jenis Burung

Terdapat 59 jenis Reptilia

Terdapat 22 jenis Amphibia

Terdapat 72 jenis Insecta

Terdapat 142 jenis Pisces

Terdapat 33 jenis Terumbu Karang

Sumber: Tribunnews
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved