Forum Ekonomi Banten 2024, BI Sebut Bidang Ekonomi Konvensional Jadi Kunci Pembangunan
Bank Indonesia (BI) Provinsi Banten meyakini pendayagunaan sektor ekonomi konvensional menjadi kunci pembangunan di Provinsi Banten.
Penulis: Ade Feri | Editor: Glery Lazuardi
Laporan wartawan TribunBanten.com Ade Feri Anggriawan
TRIBUNBANTEN.COM, SERANG- Bank Indonesia (BI) Provinsi Banten meyakini pendayagunaan sektor ekonomi konvensional menjadi kunci pembangunan di Provinsi Banten.
Hal itu diungkap oleh Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Banten, Ameriza M Moesa, usai acara Forum Ekonomi Banten 2024, yang berlangsung di Hotel Aston, Kota Serang, pada Kamis, (5/12/2024).
Ia mengatakan, ekonomi konvensional tersebut seperti, pertanian, perikanan, dan perkebunan.
Baca juga: Real Count Pilgub Banten: Airin-Ade Unggul di Tangsel, Andra-Dim Menang di Kota/Kabupaten Tangerang
“Mau tidak mau harus mendayagunakan sektor seperti pertanian, perikanan, perkebunan, kelautan yang mana banyak masyarakat Banten hidup bergantung dari sektor ini,” ujarnya kepada wartawan.
"Hal ini berdasarkan hasil kajian bersama Bappeda Provinsi Banten, akademisi, hingga pengusaha, semua meyakini bahwa kunci strategi pembangunan Banten ke depan, yakni dengan mendayagunakan sektor ekonomi konvensional," jelasnya.
Ameriza menjelaskan, dengan bangkitnya sektor konvensional tersebut, dapat memberikan efek pertumbuhan ekonomi yang besar.
Tak hanya itu, sektor tersebut juga dapat menciptakan pekerjaan yang lebih luas, dibandingkan hanya mengandalkan dari sektor manufaktur yang padat modal.
Adapun mengenai wilayah atau lokus yang bisa mendorong sektor ekonomi konvensional tersebut, Ameriza menyebut wilayah di Banten Selatan.
"Sebab di wilayah tersebut sangat berpotensi untuk dijadikan sebagai pengembangan kawasan pertanian, agro industri, perikanan, hingga pariwisata," ungkap Ameriza.
“Sehingga wilayah Banten Selatan ini, masih berpotensi besar untuk dijadikan pengembangan kawasan ekonomi konvensional,” ungkapnya.
Ameriza lantas menuturkan, berdasarkan data yang diterima terdapat beberapa indikator yang terjadi ketimpangan pada wilayah Selatan dan Utara Banten.
"Seperti pada pendapatan per kapita, laju pertumbuhan, hingga kemiskinan dan pengangguran," tuturnya.
“Jadi memang daerah selatan ini harus ada keberpihakan dari pemerintah daerah, tidak bisa dilepas seperti di daerah Utara yang didukung oleh sektor swasta yang sudah autopilot tanpa harus dibimbing,” jelasnya.
Baca juga: 258 Ribu Anak di Banten Bermasalah Gizi yang Beresiko Stunting
Menurutnya, pembangunan sektor ini dapat diawali dengan keberhasilan membuka akses atau membangun infrastruktur seperti Tol Serang-Panimbang.
| Polda Banten Limpahkan Kasus Korupsi Akses Pelabuhan Warnasari ke JPU, Negara Rugi Rp3,2 M |
|
|---|
| 45 Perlintasan Kereta Api di Banten Tanpa Penjaga dan Palang, Terbanyak di Kota Serang |
|
|---|
| Andra Soni Absen saat Paripurna LKPj Gubernur Banten 2025, Sekda Deden Ungkap Fakta Ini |
|
|---|
| DPRD Serahkan 21 Rekomendasi ke Pemprov saat Paripurna LKPj Gubernur Banten Tahun 2025 |
|
|---|
| Bayar Pajak Kendaraan Bermotor di Banten Kini Tak Perlu KTP Pemilik Pertama, Berlaku Mulai 1 Mei |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banten/foto/bank/originals/Foto-Kepala-BI-Banten-Ameriza-M-Moesa-bersama-Kepala-Bapedda-Banten-dan-Pengusaha.jpg)