Waspada, 21 Juta Akun LinkedIn Tawarkan Lowongan Kerja Palsu

Dalam laporan perusahaan dari periode 1 Januari hingga 30 Juni 2022 ada lebih dari 21 juta akun yang terdeteksi menawarkan lowongan kerja palsu

Editor: Siti Nurul Hamidah
Kolase TribunBanten.com/REUTERS Robert Galbraith/Forbes
LinkedIn, flatform mencari pekerjaan yang banyak digunakan di era digital dideteksi disusupi akun berbahaya dengan informasi lowongan pekerjaan palsu 

TRIBUNBANTEN.COM, CALIFORNIA LinkedIn, flatform mencari pekerjaan yang banyak digunakan di era digital dideteksi disusupi akun berbahaya dengan informasi lowongan pekerjaan palsu.

Munculnya lowongan pekerjaan palsu ini meresahkan pengguna LinkedIn yang ingin memanfaatkan LinkedIn sebagai sarana untuk mencari mitra bisnis.

Dalam hal  ini, LinkedIn sedang menyusuri akun-akun palsu yang saat ini sedang menyebar dan meresahkan bagi pengguna dengan lowongan kerja palsu.

Dalam laporan perusahaan dari periode 1 Januari hingga 30 Juni 2022 ada lebih dari 21 juta akun yang terdeteksi menawarkan lowongan kerja palsu.

Sejumlah cara pun mulai dilakukan LinkedIn untuk mencegah bertambahnya jumlah pengguna akun palsu.

Seperti meluncurkan fitur dan sistem baru yang dapat membantu pengguna menyeleksi anggota sebelum melakukan interaksi, mirip seperti fitur yang diluncurkan Microsoft baru – baru ini.

Baca juga: Twitter Luncurkan Layanan Berlangganan Twitter Blue, Pengguna Apple Siap-siap Menguras Kantong

Baca juga: Dalam Hitungan Menit, Rina Ubah Fasilitas Kesehatan BPJS Kesehatan via Mobile JKN: Aplikasi Jempolan

Dimana fitur “tentang profil ini” akan menunjukkan kepada pengguna kapan profil dibuat dan terakhir kali diperbarui.

Pengguna juga dapat mengetahui detail informasi pengguna lainnya hanya melalui nomor telepon dan email.

Dengan begini pengguna dalam memutuskan apakah akan menerima permintaan koneksi atau membalas pesan.

Mengutip dari CNBC International, LinkedIn juga turut meningkatkan sistem otomatisnya yang dirancang untuk mendeteksi gambar dengan kemampuan AI

Sehingga menjaga platform dari profil dan aktivitas yang tidak autentik.

Baca juga: Aplikasi eHDW: Aplikasi Pembantu Pencegahan Stunting di Desa

Dengan menerapkan cara tersebut 95,3 persen, akun palsu kini telah resmi dihentikan. 

Meski sistem keamanan telah ditingkatkan  akan tetapi LinkedIn tetap mengingatkan kepada karyawan dan pelanggan kami, untuk tetap waspada dalam berselancar di jejaring sosial.

Mike Clifton, wakil presiden eksekutif dan kepala informasi perusahaan digital di Alorica, sebuah perusahaan outsourcing layanan pelanggan global menjelaskan, pembuat profil LinkedIn palsu biasanya akan memposting dan mempromosikan acara kerja, seperti webinar.

Mereka menggunakan foto asli dan informasi yang telah dilegitimasi ke situs web pihak ketiga.

Sumber: Tribunnews
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved